A D A B
Perkataan adab secara bahasa berasal dari bahasa Arab,
aduba, ya’dubu, adaban. Artinya, lebih-kurang;
aturan kesopanan atau tata karma.
Dalam tasawuf, konsep adab dipahami sebagai buah dari
sebuah proses pembentukan akhlak (perangai), baik secara lahir maupun batin.
Seorang sufi berkata; “Jika seorang hamba telah
membentuk akhlaknya lahir dan batin, maka dia akan menjadi seorang sufi yang
beradab. Tidak sempurna adab seorang hamba kecuali dengan memiliki akhlak yang
sempurna.”
Pentingnya adab dalam kehidupan seorang Muslim,
ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan ‘Aisyah
RA, yang mengatakan; “Hak seorang ayah kepada anaknya adalah memperbaiki
namanya, memperbaiki tempat (lokasi) tinggalnya dan memperbaiki adabnya .”
Syaikh Junayd al-Baghdadi mengatakan bahwa barangsiapa
yang membantu dirinya menuruti hawa nafsunya, maka ia sama saja dengan membunuh
dirinya sendiri. Karena ibadah harus diringi dengan adab, maka adab yang buruk
dapat dimasukkan dalam kejahatan
Hubungan antara adab dan akhlak dalam tasawuf memang
sangat diperhatikan. Dalam hadis Rasulullah SAW yang mengatakan ‘hassinu akhlaqakum’ (perbaikilah
akhlakmu) menunjukkan bahwa akhlak seorang manusia dapat berubah. Hal ini disebabkan
karena Allah menciptakan manusia dengan memiliki kecenderungan terhadap kebaikan
dan keburukan. Seperti firman Allah dalam QS al-Syam/91 : 8, “Maka Allah
mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan.”
Ini dapat difahami bahwa dalam jiwa manusia ada
kecenderungan untuk melakukan perbuatan baik dan tidak baik. Kecenderungan ini
dapat diatasi dengan jalan mensucikan diri (tazkiyat
al-nafs) yaitu berupa mendidik perangai ke arah perbuatan yang diridoi oleh
Allah. Seperti firman Allah dalam QS al-Syam/91 : 9-10, “Sesungguhnya
beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.”
Keterkaitan adab dalam pelaksanaan syariat, menjadi unsur
yang sangat penting dalam tasawuf. Salah satu contoh hubungan adab dan syariat
dalam tasawuf, dapat dilihat dalam wudhu. Menurut Syaikh Syihab al-Din Umar
al-Suhrawardi, setelah mengenal hukum-hukum syariat berwudhu, yang harus
dijalankan seorang Muslim adalah adab wudhu, yaitu menghadirkan Allah ke dalam hati
ketika membasuh anggota badan. Orang-orang yang saleh, kata Syaikh Syihab, jika
hati mereka merasakan kehadiran Allah ketika wudhu, maka dalam salat mereka
juga akan menjadi tenang; tetapi jika terdapat kelalaian dalam wudhu, maka
masuklah rasa was-was dalam salat-nya.
Karena
itu melazimkan wudhu akan membuat hati menjadi tenang. Hal ini karena anggota
badan yang telah tersirami dengan air wudhu, dapat memperkecil jalan setan
untuk masuk ke dalam diri seseorang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar