Rabu, 28 Mei 2014

ADAB

A D A B

Perkataan adab secara bahasa berasal dari bahasa Arab, aduba, ya’dubu, adaban. Artinya, lebih-kurang; aturan kesopanan atau tata karma.
Dalam tasawuf, konsep adab dipahami sebagai buah dari sebuah proses pembentukan akhlak (perangai), baik secara lahir maupun batin.
Seorang sufi berkata; “Jika seorang hamba telah membentuk akhlaknya lahir dan batin, maka dia akan menjadi seorang sufi yang beradab. Tidak sempurna adab seorang hamba kecuali dengan memiliki akhlak yang sempurna.”
Pentingnya adab dalam kehidupan seorang Muslim, ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan ‘Aisyah RA, yang mengatakan; “Hak seorang ayah kepada anaknya adalah memperbaiki namanya, memperbaiki tempat (lokasi) tinggalnya dan memperbaiki adabnya .”
Syaikh Junayd al-Baghdadi mengatakan bahwa barangsiapa yang membantu dirinya menuruti hawa nafsunya, maka ia sama saja dengan membunuh dirinya sendiri. Karena ibadah harus diringi dengan adab, maka adab yang buruk dapat dimasukkan dalam kejahatan
Hubungan antara adab dan akhlak dalam tasawuf memang sangat diperhatikan. Dalam hadis Rasulullah SAW yang mengatakan ‘hassinu akhlaqakum’ (perbaikilah akhlakmu) menunjukkan bahwa akhlak seorang manusia dapat berubah. Hal ini disebabkan karena Allah menciptakan manusia dengan memiliki kecenderungan terhadap kebaikan dan keburukan. Seperti firman Allah dalam QS al-Syam/91 : 8, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan.”  
Ini dapat difahami bahwa dalam jiwa manusia ada kecenderungan untuk melakukan perbuatan baik dan tidak baik. Kecenderungan ini dapat diatasi dengan jalan mensucikan diri (tazkiyat al-nafs) yaitu berupa mendidik perangai ke arah perbuatan yang diridoi oleh Allah. Seperti firman Allah dalam QS al-Syam/91 : 9-10, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Keterkaitan adab dalam pelaksanaan syariat, menjadi unsur yang sangat penting dalam tasawuf. Salah satu contoh hubungan adab dan syariat dalam tasawuf, dapat dilihat dalam wudhu. Menurut Syaikh Syihab al-Din Umar al-Suhrawardi, setelah mengenal hukum-hukum syariat berwudhu, yang harus dijalankan seorang Muslim adalah adab wudhu, yaitu menghadirkan Allah ke dalam hati ketika membasuh anggota badan. Orang-orang yang saleh, kata Syaikh Syihab, jika hati mereka merasakan kehadiran Allah ketika wudhu, maka dalam salat mereka juga akan menjadi tenang; tetapi jika terdapat kelalaian dalam wudhu, maka masuklah rasa was-was dalam salat-nya.
Karena itu melazimkan wudhu akan membuat hati menjadi tenang. Hal ini karena anggota badan yang telah tersirami dengan air wudhu, dapat memperkecil jalan setan untuk masuk ke dalam diri seseorang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar