Selasa, 17 Juni 2014

RAHASIA MA'RIFAT

RAHASIA MA'RIFAT

Sangat sulit menjelaskan hakikat dan makrifat kepada orang-orang yang mempelajari agama hanya pada tataran Syariat saja, menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadist akan tetapi tidak memiliki ruh dari pada Al-Qur’an itu sendiri. Padahal hakikat dari Al-Qur’an itu adalah Nur Allah yang tidak berhuruf dan tidak bersuara, dengan Nur itulah Rasulullah S.A.W. memperoleh pengetahuan yang luar biasa dari Allah SWT. Hapalan tetap lah hapalan dan itu tersimpan di otak yang dimensinya rendah tidak adakan mampu menjangkau hakikat Allah, otak itu baharu sedangkan Allah itu adalah Qadim sudah pasti Baharu tidak akan sampai kepada Qadim. Kalau anda cuma belajar dari dalil dan mengharapkan bisa sampai kehadirat Allah dengan dalil yang anda miliki maka saya memberikan garansi kepada anda: PASTI anda tidak akan sampai kehadirat-Nya.
Ketika anda tidak sampai kehadirat-Nya sudah pasti anda sangat heran dengan ucapan orang-orang yang sudah bermakrifat, bisa berjumpa dengan Malaikat, berjumpa dengan Rasulullah SAW dan melihat Allah SWT, dan anda menganggap itu sebuah kebohongan dan sudah pasti anda mengumpulkan lagi puluhan bahkan ratusan dalil untuk membantah ucapan para ahli makrifat tersebut dengan dalil yang menurut anda sudah benar, padahal kadangkala dalil yang anda berikan justru sangat mendukung ucapan para Ahli Makrifat cuma sayangnya matahati anda dibutakan oleh hawa nafsu, dalam Al-Qur’an disebuat Qatamallahu ‘ala Qukubihum (Tertutup mata hati mereka) itulah hijab yang menghalangi anda menuju Tuhan.
Rasulullah SAW menggambarkan Ilmu hakikat dan makrifat itu sebagai “Haiatul Maknun” artinya “Perhiasan yang sangat indah”. Sebagaimana hadist yang dibawakan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :
“Sesungguhnya sebagian ilmu itu ada yang diumpamakan seperti perhiasan yang indah dan selalu tersimpan yang tidak ada seoranpun mengetahui kecuali para Ulama Allah. Ketika mereka menerangkannya maka tidak ada yang mengingkari kecuali orang-orang yang biasa lupa (tidak berzikir kepada Allah)” (H.R. Abu Abdir Rahman As-Salamy)
Di dalam hadist ini jelas ditegaskan menurut kata Nabi bahwa ada sebagian ilmu yang tidak diketahui oleh siapapun kecuali para Ulama Allah yakni Ulama yang selalu Zikir kepada Allah dengan segala konsekwensinya. Ilmu tersebut sangat indah laksana perhiasan dan tersimpan rapi yakni ilmu Thariqat yang didalamnya terdapat amalan-amalan seperti Ilmu Latahif dan lain-lain.
Masih ingat kita cerita nabi Musa dengan nabi Khidir yang pada akhir perjumpaan mereka membangun sebuah rumah untuk anak yatim piatu untuk menjaga harta berupa emas yang tersimpan dalam rumah, kalau rumah tersebut dibiarkan ambruk maka emasnya akan dicuri oleh perampok, harta tersebut tidak lain adalah ilmu hakikat dan makrifat yang sangat tinggi nilainya dan rumah yang dimaksud adalah ilmu syariat yang harus tetap dijaga untuk membentengi agar tidak jatuh ketangan yang tidak berhak.
Semakin tegas lagi pengertian di atas dengan adanya hadist nabi yang diriwayatkan dari Abu Hurairah sebagai berikut :
“Aku telah hafal dari Rasulillah dua macam ilmu, pertama ialah ilmu yang aku dianjurkan untuk menyebarluaskan kepada sekalian manusia yaitu Ilmu Syariat. Dan yang kedua ialah ilmu yang aku tidak diperintahkan untuk menyebarluaskan kepada manusia yaitu Ilmu yang seperti “Hai’atil Maknun”. Maka apabila ilmu ini aku sebarluaskan niscaya engkau sekalian memotong leherku (engkau menghalalkan darahku). (HR. Thabrani)
Hadist di atas sangat jelas jadi tidak perlu diuraikan lagi, dengan demikian barulah kita sadar kenapa banyak orang yang tidak senang dengan Ilmu Thariqat? Karena ilmu itu memang amat rahasia, sahabat nabi saja tidak diizinkan untuk disampaikan secara umum, karena ilmu itu harus diturunkan dan mendapat izin dari Nabi, dari nabi izin itu diteruskan kepada Khalifah nya terus kepada para Aulia Allah sampai saat sekarang ini.
Jika ilmu Hai’atil Maknun itu disebarkan kepada orang yang belum berbait zikir atau “disucikan” sebagaimana telah firmankan dalam Al-Qur’an surat Al-‘Ala, orang-orang yang cuma Ahli Syariat semata-mata, maka sudah barang tentu akan timbul anggapan bahwa ilmu jenis kedua ini yakni Ilmu Thariqat, Hakikat dan Ma’rifat adalah Bid’ah dlolalah. 
Dan mereka ini mempunyai I’tikqat bahwa ilmu yang kedua tersebut jelas diingkari oleh syara’. Padahal tidak demikian, bahwa hakekat ilmu yang kedua itu tadi justru merupakan intisari daripada ilmu yang pertama artinya ilmu Thariqat itu intisari dari Ilmu Syari’at.
Oleh karena itu jika anda ingin mengerti Thariqat, Hakekat dan Ma’rifat secara mendalam maka sebaiknya anda berbai’at saja terlebih dahulu dengan Guru Mursyid (Khalifah) yang ahli dan diberi izin dengan taslim dan tafwidh dan ridho. Jadi tidak cukup hanya melihat tulisan buku-buku lalu mengingkari bahkan mungkin mudah timbul prasangka jelek terhadap ahli thariqat.
Dalam setiap peristiwa yang mewarnai kehidupan ini, seringkali kita tidak mampu atau tidak mau menangkap kehadiran Allah dengan segala sifat-sifatNya. Padahal sifat-sifat Allah sangat terkait erat dengan ayat-ayat kauniyahNya yang terhampar di atas muka bumiNya. Betapa Allah –melalui ayat-ayat kauniyahNya- memang ingin menunjukkan keMaha KuasaanNya dan keMaha BesaranNya agar hamba-hambaNya senantiasa mawas diri, waspada dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar tidak mengundang turunnya sifat JalilahNya yang tidak akan mampu dibendung, apalagi dilawan oleh siapapun, dengan upaya dan sarana kekuatan apapun tanpa terkecuali, karena memang Allahlah satu-satunya pemilik kekuatan dan kekuasaan terhadap seluruh makhlukNya.
Berdasarkan pembacaan terhadap ayat-ayat Al Qur’an secara berurutan, terdapat paling tidak empat ayat yang menyebut sifat-sifat Jamilah dan Jalilah Allah secara berdampingan, yaitu: pertama, surah Al-Ma’idah [5]: 98, “Ketahuilah, bahwa sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya dan bahwa sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. kedua, akhir surah Al-An’am [6]: 165, “Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. ketiga, surah Ar-Ra’d [13]: 6, “Mereka meminta kepadamu supaya disegerakan (datangnya) siksa, sebelum (mereka meminta) kebaikan, padahal telah terjadi bermacam-macam contoh siksa sebelum mereka.Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mempunyai ampunan (yang luas) bagi manusia sekalipun mereka zalim, dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar sangat keras siksanya”. Dan keempat, surah Al-Hijr [15]: 49-50, “Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, dan bahwa sesungguhnya adzab-Ku adalah adzab yang sangat pedih”.
Pada masing-masing ayat di atas, Allah menampilkan DiriNya dengan dua sifat yang saling berlawanan; Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang yang merupakan esensi dari sifat JamilahNya, namun pada masa yang sama ditegaskan juga bahwa Allah amat keras dan pedih siksaanNya yang merupakan cermin dari sifat JalilahNya. Menurut Ibnu Abbas r.a, seorang tokoh terkemuka tafsir dari kalangan sahabat, ayat-ayat tersebut merupakan ayat Al Qur’an yang sangat diharapkan oleh seluruh hamba Allah s.w.t. (Arja’ Ayatin fi KitabiLlah). Karena –menurut Ibnu Katsir- ayat-ayat ini akan melahirkan dua sikap yang benar secara seimbang dari hamba-hamba Allah yang beriman, yaitu sikap harap terhadap sifat-sifat Jamilah Allah dan sikap cemas serta khawatir akan ditimpa sifat Jalilah Allah (Ar-Raja’ wal Khauf). Sementara Imam Al-Qurthubi memahami ayat tentang sifat-sifat Allah swt semakna dengan hadits Rasulullah s.a.w. yang menegaskan, “Sekiranya seorang mukmin mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari ancaman adzabNya, maka tidak ada seorangpun yang sangat berharap akan mendapat surgaNya. Dan sekiranya seorang kafir mengetahui apa yang ada di sisi Allah dari rahmatNya, maka tidak ada seorangpun yang berputus asa dari rahmatNya”. ( HR. Muslim)
Dalam konteks ini, Syekh Muhammad Mutawalli Asy-Sya’rawi, seorang tokoh tafsir berkebangsaan Mesir mengelompokkan sifat-sifat Allah yang banyak disebutkan oleh Al Qur’an kedalam dua kategori, yaitu Sifat-sifat Jamilah dan Sifat-sifat Jalilah. Kedua sifat itu selalu disebutkan secara beriringan dan berdampingan. Tidak disebut sifat-sifat Jamilah Allah, melainkan akan disebut setelahnya sifat-sifat JalilahNya. Begitupula sebaliknya. Dan memang begitulah Sunnatul Qur’an selalu menyebutkan segala sesuatu secara berlawanan; antara surga dan neraka, kelompok yang dzalim dan kelompok yang baik, kebenaran dan kebathilan dan lain sebagainya. Semuanya merupakan sebuah pilihan yang berada di tangan manusia, karena manusia telah dianugerahi oleh Allah kemampuan untuk memilih, tentu dengan konsekuensi dan pertanggung jawaban masing-masing. “Bukankah Kami telah memberikan kepada (manusia) dua buah mata,. lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan; petunjuk dan kesesatan”. (QS. Al-Balad: 8-10)
Sifat Jalilah yang dimaksudkan oleh beliau adalah sifat-sifat yang menunjukkan kekuasaan, kehebatan, cepatnya perhitungan Allah dan kerasnya ancaman serta adzab Allah swt yang akan melahirkan sifat Al-Khauf (rasa takut, khawatir) pada diri hamba-hambaNya. Manakala Sifat Jamilah adalah sifat-sifat yang menampilkan Allah sebagai Tuhan Yang Maha Pengasih, Penyayang, Pengampun, Pemberi Rizki dan sifat-sifat lainnya yang memang sangat dinanti-nantikan kehadirannya oleh setiap hamba Allah swt tanpa terkecuali. Dan jika dibuat perbandingan antara kedua sifat tersebut, maka sifat jamilah Allah jelas lebih banyak dan dominan dibanding sifat jalilahNya.
Pada tataran Implementasinya, pemahaman yang benar terhadap kedua sifat Allah tersebut bisa ditemukan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik r.a. Anas menceritakan bahwa suatu hari Rasulullah bertakziah kepada seseorang yang akan meninggal dunia. Ketika Rasulullah bertanya kepada orang itu, “Bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang?”, ia menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas”. Mendengar jawaban laki-laki itu, Rasulullah bersabda, ‘Tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan ini, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang ia cemaskan”. (HR. At Tirmidzi dan Nasa’i).
Sahabat Abdullah bin Umar ra seperti dinukil oleh Ibnu Katsir memberikan kesaksian bahwa orang yang dimaksud oleh ayat-ayat di atas adalah Utsman bin Affan ra. Kesaksian Ibnu Umar tersebut terbukti dari pribadi Utsman bahwa ia termasuk sahabat yang paling banyak bacaan Al Qur’an dan sholat malamnya. Sampai Abu Ubaidah meriwayatkan bahwa Utsman terkadang mengkhatamkan bacaan Al Qur’an dalam satu rakaat dari sholat malamnya. Sungguh satu tingkat kewaspadaan hamba Allah yang tertinggi bahwa ia senantiasa khawatir dan cemas akan murka dan ancaman adzab Allah swt dengan terus meningkatkan kualitas dan kuantitas pengabdian kepadaNya. Disamping tetap mengharapkan rahmat Allah melalui amal sholehnya.
Betapa peringatan dan cobaan Allah justru datang saat kita lalai, saat kita terpesona dengan tarikan dunia dan saat kita tidak menghiraukan ajaran-ajaranNya, agar kita semakin menyadari akan keberadaan sifat-sifat Allah yang Jalillah maupun yang Jamilah untuk selanjutnya perasaan harap dan cemas itu terimplementasi dalam kehidupan sehari-hari. Boleh jadi saat ini Allah masih berkenan hadir dengan sifat JamilahNya dalam kehidupan kita karena kasih sayangNya yang besar, namun tidak tertutup kemungkinan karena dosa dan kemaksiatan yang selalu mendominasi perilaku kita maka yang akan hadir justru sifat JalilahNya. Na’udzu biLlah. Memang hanya orang-orang yang selalu waspada yang mampu mengambil hikmah dan pelajaran dari setiap peristiwa yang terjadi. Saatnya kita lebih mawas diri dan meningkatkan kewaspadaan dalam segala bentuknya agar terhindar dari sifat Jalilah Allah swt dan senatiasa meraih sifat jamilahNya. Dan itulah tipologi manusia yang dipuji oleh Allah dalam firmanNya yang bermaksud, “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia senantiasa cemas dan khawatir akan (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran”. (QS. Az-Zumar [39]: 9)
Semoga kasih sayang Allah yang merupakan cermin dari sifat JamilahNya senantiasa mewarnai kehidupan ini dan menjadikannya sarat dengan kebahagiaan, ketentraman dan kesejahteraan lahir dan bathin. Dan pada masa yang sama, Allah berkenan menjauhkan bangsa ini dari sifat JalilahNya yang tidak mungkin dapat dibendung dengan kekuatan apapun karena memang mayoritas umat ini mampu merealisasikan nilai iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari mereka.


Sabtu, 07 Juni 2014

PERBEDAAN DALAM ISLAM ITU RAHMAT

Maulid Nabi, Sejarah Syiar Islam

Perbedaan itu rahmat. Pandangan sesama umat Islam tentang ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’ memperingati Maulid Nabi justru mengasah orang untuk mempelajari ilmu-ilmu dalam Islam, termasuk fiqih dan sejarah syiarnya.

Kata maulid atau milad adalah dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Maulid Nabi Muhammad SAW atau seringkali disebut Maulid Nabi saja adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijiriah. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Mereka yang berpendapat bahwa peringatan maulid itu ‘bid’ah’ karena tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, bisa memaknai secara lebih jernih ibadah-ibadah lain seperti umrah pada bulan Ramadhan yang selama hidup Rasulullah tidak pernah menjalankan. Kemudian mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, Rasulullah juga tidak pernah mengeluarkan zakat fitrah dengan beras.

Kalau melihat pengertiannya dalam bidang ibadah, yang disebut ‘bid’ah’ adalah ibadah yang tidak ada dalilnya -- dalil syar’i dalam agama. Sedangkan yang dimaksud dalil syar’i adalah Al Qur’an, Al Hadist, Ijma’, Qiyas, dan lain-lain. Lalu, apakah peringatan maulid Nabi SAW itu ada dalilnya dalam agama? Tidak. Tapi untuk melihat ‘status hukum’ suatu perbuatan harus dilihat ‘perbuatan’ itu, bukan nama atau ‘judul’ perbuatan itu

Seperti kata Syaikh Dr. Ahmad al-Syurbasyi dalam kitabnya Yasalunaka fi al-Din wa al-Hayah, untuk memberi ‘status hukum’ peringatan maulid, harus dilihat ‘perbuatan’ yang dilakukan dalam maulid itu. Apabila peringatan maulid diisi dengan maksiat dan kemungkaran, hukumnya jelas haram. Namun, apabila diisi dengan membaca Al Qur’an, shalawat, penerangan perjuangan Rasululah SAW, dan lain sebagainya, semua itu ada dalil-dalil yang menganjurkannya.

Peringatan Maulid Nabi, diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang Gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Ada pula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri.

Sebagaimana diketahui, Sultan Salahuddin adalah salah satu pemimpin umat Islam dalam  kecamuk panjang panjang Perang Salib yang belangsung selama 70 tahun lebih. Perang Salib dipicu ‘fatwa’ Paus Urbanus II ……

Peperangan yang berlangsung pasang surut ini benar-benar menguras energi, dan antara kemenangan dengan kekalahan pun terjadi silih berganti. Sebelum Sultan Salahuddin memimpin, ayah dan pamannya menjadi panglima perang umat Islam Dinasti Bani Ayyub. Kemudian Sultan Salahuddin memimpin pada 1174-1193 atau 570-590 H.  Saat itu Salahuddin menjabat setingkat gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Pada periode tertentu, umat Islam sempat kehilangan semangat perjuangan, Maka, dengan menggunakan momentum hari kelahiran Rasulullah SAW, Sultan Salahuddin membangkitkan semangat umat Islam dengan mengingatkan kembali kepada perjuangan Rasulullah SAW, untuk apa Nabi Akhir Zaman itu diturunkan di muka bumi.

Perintah merayakan Maulid Nabi disampaikan pertama kali pada musim haji 579 H atau 1183. Sultan mengimbau agar seluruh jamaah haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halamannya segera mengenalkan perayaan Maulid kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Perintah itu atas persetujuan Khalifah Bani Abbas di Baghdad.

Ide Sultan Salahuddin ini awalnya ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi SAW peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu Sultan Salahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi,  beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti lomba tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji dengan karyanya Kitab 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Karya itu digandakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia, umumnya dibaca pada saat peringatan Maulid Nabi dengan sebutan ‘Barzanji’.


Salah satu buah dari menggeloranya semangat perjuangan umat Islam yang dipicu oleh peringatan Maulid Nabi, Sultan Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan dan merebut Yerusalem dari bangsa  Eropa pada tahun 1187 M (583 H).

Minggu, 01 Juni 2014

KISAH HIKMAH

Balasan Kejujuran

Ada seorang lelaki miskin di Makkah yang mempunyai seorang istri yang salehah. Suatu hari istrinya berkata “Kita tidak punya makanan hari ini,” kepada suaminya. Sang suami langsung keluar rumah untuk mencari nafkah. Ia membantu mengangkat barang orang-orang di pasar, namun tak satu pun yang memberinya upah. Saat mendengar adzan dari Masjidil Haram ia langsung kesana, ia melakukan sholat dan berdoa.

Ketika ia keluar masjid, ia tersandung sebuah bungkusan, saat dibuka ternyata berisi banyak uang dinar. Kemudian ia pulang dan memberikan bungkusan itu. Ia juga menjelaskan asal-usul uang itu. Mendengar ceritanya, sang istri tidak mau menerima uang tersebut dan meminta suaminya agar mengungumkan temuannya itu. Tujuannya agar pemilik uang bisa mendapatkan kembali uangnya.

Saat ia akan kembali ke Masjidil Haram, di jalan banyak orang berkumpul. Mereka merubung seorang laki-laki yang kehilangan bungkusan uang. Lelaki itu menjelaskan secara rinci ciri-ciri bungkusan dan berapa banyak uang dinar yang ada didalamnya.  Lalaki itu juga meminta orang yang menemukan bungkusan uang untuk mengembalikan padanya.

Suami miskin itu pun maju dan mengembalikan bungkusan yang ia temukan. Namun pemilik uang itu menolak sambil berkata “Itu untukmu,” bahkan ia memberi  900 dinar lagi kepada si suami miskin itu. Penemu uang itu heran dan bertanya “Apakah engkau mengejekku dengan pura-pura memberi uang tambahan?” Lelaki itu menjawab “Sama sekali tidak. Ada orang kaya di Irak yang memberikan aku 1000 dirham. Orang itu berpesan agar aku meletakkan sebagian di Masjidil Haram. Jika ada orang mengembalikan uang itu sisanya harus diberikan ke orang jujur itu. Mudah-mudahan sedekahnya diterima Allah karena yang menerima uang itu orang yang jujur.”


Sembari berlinang airmata si miskin mengucapkan terima kasih, lalu menuju Masjidil Haram untuk melakukan thawaf dan sujud syukur.

Kamis, 29 Mei 2014

AHLI SUFI DAN AHLI MAKSIAT

SEORANG SUFI DAN AHLI MAKSIAT

Suatu hari, Ibrahim bin Adham didatangi oleh seseorang yang sudah sekian lama hidup dalam kemaksiatan, sering mencuri, selalu menipu, dan tak pernah bosan berzina. Orang ini mengadu kepada Ibrahim bin Adham, "Wahai tuan guru, aku seorang pendosa yang rasanya tak mungkin bisa keluar dari kubangan maksiat. Tapi, tolong ajari aku seandainya ada cara untuk menghentikan semua perbuatan tercela ini?" Ibrahim bin Adham menjawab, "Kalau kamu bisa selalu berpegang pada lima hal ini, niscaya kamu akan terjauhkan dari segala perbuatan dosa dan maksiat.

Pertama, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka usahakanlah agar Allah jangan sampai melihat perbuatanmu itu." Orang itu terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah Allah selalu melihat apa saja yang diperbuat oleh siapapun? Allah pasti tahu walaupun perbuatan itu dilakukan dalam kesendirian, di kamar yang gelap, bahkan di lubang semut pun." Wahai anak muda, kalau yang melihat perbuatan dosa dan maksiatmu itu adalah tetanggamu, kawan dekatmu, atau orang yang kamu hormati, apakah kamu akan meneruskan perbuatanmu? Lalu mengapa terhadap Allah kamu tidak malu, sementara Dia melihat apa yang kamu perbuat?" Orang itu lalu tertunduk dan berkata,"katakanlah yang kedua, Tuan guru!" Kedua, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, maka jangan pernah lagi kamu makan rezeki Allah." Pendosa itu kembali terperangah, "Bagaimana mungkin, Tuan guru, bukankah semua rezeki yang ada di sekeliling manusia adalah dari Allah semata? Bahkan, air liur yang ada di mulut dan tenggorokanku adalah dari Allah jua." Ibrahim bin Adham menjawab, "Wahai anak muda, masih pantaskah kita makan rezeki Allah sementara setiap saat kita melanggar perintahNya dan melakukan laranganNya? Kalau kamu numpang makan kepada seseorang, sementara setiap saat kamu selalu mengecewakannya dan dia melihat perbuatanmu, masihkah kamu punya muka untuk terus makan darinya?" "Sekali-kali tidak! Katakanlah yang ketiga, Tuan guru." Ketiga, kalau kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, janganlah kamu tinggal lagi di bumi Allah."
Orang itu tersentak, "Bukankah semua tempat ini adalah milik Allah, Tuan guru? Bahkan, segenap planet, bintang dan langit adalah milikNya juga?" Ibrahim bin Adham menjawab,"Kalau kamu bertamu ke rumah seseorang, numpang makan dari semua miliknya, akankah kamu cukup tebal muka untuk melecehkan aturan-aturan tuan rumah itu sementara dia selalu tahu dan melihat apa yang kamu lakukan?" Orang itu kembali terdiam, air mata menetes perlahan dari kelopak matanya lalu berkata, "Katakanlah yang keempat, Tuan guru." Keempat, jika kamu masih akan berbuat dosa dan maksiat, dan suatu saat malaikat maut datang untuk mencabut nyawamu sebelum kamu bertobat, tolaklah ia dan janganlah mau nyawamu dicabut." Bagaimana mungkin, Tuan guru? Bukankah tak seorang pun mampu menolak datangnya malaikat maut?" Ibrahim bin adham menjawab, "Kalau kamu tahu begitu, mengapa masih jua berbuat dosa dan maksiat? Tidakkah terpikir olehmu, jika suatu saat malaikat maut itu datang justru ketika kamu sedang mencuri, menipu, berzina dan melakukan dosa lainnya?" Air mata menetes semakin deras dari kelopak mata orang tersebut, kemudian ia berkata, "Wahai tuan guru, katakanlah hal yang kelima." Kelima, jika kamu masih akan berbuat dosa, dan tiba-tiba malaikat maut mencabut nyawamu justru ketika sedang melakukan dosa, maka janganlah mau kalau nanti malaikat Malik akan memasukkanmu ke dalam neraka. Mintalah kepadanya kesempatan hidup sekali lagi agar kamu bisa bertobat dan menambal dosa-dosamu itu." Pemuda itupun berkata, "Bagaimana mungkin seseorang bisa minta kesempatan hidup lagi, Tuan guru? Bukankah hidup hanya sekali? Ibrahim bin Adham pun lalu berkata, "Oleh karena hidup hanya sekali anak muda, dan kita tak pernah tahu kapan maut akan menjemput kita, sementara semua yang telah diperbuat pasti akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak, apakah kita masih akan menyia-nyiakan hidup ini hanya untuk menumpuk dosa dan maksiat?" pemuda itupun langsung pucat, dan dengan surau parau menahan ledakan tangis ia mengiba, "Cukup, Tuan guru, aku tak sanggup lagi mendengarnya." Lalu ia pun beranjak pergi meninggalkan Ibrahim bin Adham. Dan sejak saat itu, orang-orang mengenalnya sebagai seorang ahli ibadah yang jauh dari perbuatan-perbuatan tercela.

Semoga kisah ini menjadi renungan bagi kita bersama dalam menapaki setiap langkah kita selagi hidup di dunia.

Rabu, 28 Mei 2014

ADAB

A D A B

Perkataan adab secara bahasa berasal dari bahasa Arab, aduba, ya’dubu, adaban. Artinya, lebih-kurang; aturan kesopanan atau tata karma.
Dalam tasawuf, konsep adab dipahami sebagai buah dari sebuah proses pembentukan akhlak (perangai), baik secara lahir maupun batin.
Seorang sufi berkata; “Jika seorang hamba telah membentuk akhlaknya lahir dan batin, maka dia akan menjadi seorang sufi yang beradab. Tidak sempurna adab seorang hamba kecuali dengan memiliki akhlak yang sempurna.”
Pentingnya adab dalam kehidupan seorang Muslim, ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadisnya yang diriwayatkan ‘Aisyah RA, yang mengatakan; “Hak seorang ayah kepada anaknya adalah memperbaiki namanya, memperbaiki tempat (lokasi) tinggalnya dan memperbaiki adabnya .”
Syaikh Junayd al-Baghdadi mengatakan bahwa barangsiapa yang membantu dirinya menuruti hawa nafsunya, maka ia sama saja dengan membunuh dirinya sendiri. Karena ibadah harus diringi dengan adab, maka adab yang buruk dapat dimasukkan dalam kejahatan
Hubungan antara adab dan akhlak dalam tasawuf memang sangat diperhatikan. Dalam hadis Rasulullah SAW yang mengatakan ‘hassinu akhlaqakum’ (perbaikilah akhlakmu) menunjukkan bahwa akhlak seorang manusia dapat berubah. Hal ini disebabkan karena Allah menciptakan manusia dengan memiliki kecenderungan terhadap kebaikan dan keburukan. Seperti firman Allah dalam QS al-Syam/91 : 8, “Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan kefasikan dan ketakwaan.”  
Ini dapat difahami bahwa dalam jiwa manusia ada kecenderungan untuk melakukan perbuatan baik dan tidak baik. Kecenderungan ini dapat diatasi dengan jalan mensucikan diri (tazkiyat al-nafs) yaitu berupa mendidik perangai ke arah perbuatan yang diridoi oleh Allah. Seperti firman Allah dalam QS al-Syam/91 : 9-10, “Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
Keterkaitan adab dalam pelaksanaan syariat, menjadi unsur yang sangat penting dalam tasawuf. Salah satu contoh hubungan adab dan syariat dalam tasawuf, dapat dilihat dalam wudhu. Menurut Syaikh Syihab al-Din Umar al-Suhrawardi, setelah mengenal hukum-hukum syariat berwudhu, yang harus dijalankan seorang Muslim adalah adab wudhu, yaitu menghadirkan Allah ke dalam hati ketika membasuh anggota badan. Orang-orang yang saleh, kata Syaikh Syihab, jika hati mereka merasakan kehadiran Allah ketika wudhu, maka dalam salat mereka juga akan menjadi tenang; tetapi jika terdapat kelalaian dalam wudhu, maka masuklah rasa was-was dalam salat-nya.
Karena itu melazimkan wudhu akan membuat hati menjadi tenang. Hal ini karena anggota badan yang telah tersirami dengan air wudhu, dapat memperkecil jalan setan untuk masuk ke dalam diri seseorang.

Selasa, 27 Mei 2014

SEMANGAT DAN GAIRAH RANG BERIMAN

Dalam masyarakat-masyarakat yang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an, kata “kegairahan” sering mengungkapkan perasaan gelisah, cemas, stress dan marah saat menghadapi peristiwa-peristiwa tertentu. Ia bukanlah pera­saan positif melainkan sesuatu yang menye­dihkan. Kegairahan orang-orang beriman, sebaliknya, adalah perasaan yang meluap-luap yang dialami karena memikirkan keindahan Allah, karunia-karunia-Nya, dan kehidupan abadi di surga.
Orang-orang yang tidak memiliki iman mengalami perasaan sedih karena mereka tidak bertawa­kal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah berarti menjadikan Allah sebagai pelindung dan tempat bersandar. Karena orang-orang yang lalai tidak menghar­gai kebesaran Allah, mereka tidak dapat meng­alami perasaan tawa­kal dan berserah diri. Tidak juga menjadikan Allah sebagai pe­lindungnya, mereka berharap akan menerima bantuan dari sum­ber-sumber keduniawian. Karena alasan ini mereka tidak dapat membe­baskan diri dari ketakutan dan kecemasan.
Namun, orang-orang beriman tidak dilan­da perasaan sedih sebagaimana dialami oleh masyarakat jahiliah berkat tawakal mereka kepada Allah. Mereka adalah orang-orang yang mengalami kegairahan iman yang dilu­kiskan oleh al-Qur’an, sebagai sifat orang-orang beriman. Itu disebabkan karena mereka sadar bahwa setiap kejadian diciptakan untuk tujuan Ilahi dan, dengan demikian, mere­nung­­kan dalam-dalam untuk memahami tujuan-tujuan Ilahi. Dengan menggunakan kesadar­an, mereka dapat dengan mudah melihat tujuan-tujuan yang tersembunyi dalam detail-detail yang sangat lembut. Ketika diban­ding­kan dengan orang-orang yang lalai, mereka memperlihatkan kepekaan yang lebih besar terhadap kejadian yang sama, mendapat kesenangan dan kegairahan yang lebih besar darinya. Mereka mengalami kegai­rahan kare­na mengetahui bahwa mereka dicip­takan bu­kan dari apa-apa dan masuk ke sebuah dunia yang penuh warna di mana ratusan ribu, bah­kan jutaan keajaiban muncul ber­sama dalam waktu yang sama. Ke mana pun mereka me­man­dang, mereka melihat keindahan Allah: alam semesta, angkasa, mata hari, bulan, kupu-kupu, jutaan binatang, tanaman, buah-buah­an, dan sebagainya. Seorang mukmin merasa sangat berbunga-bunga ketika dia memba­yangkan semua ini.

APA YANG MEMBANGKITKAN GAIRAH ORANG - ORANG BERIMAN
¨ Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah

Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhan­mu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesung­guhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).

Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memper­hatikan susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi. Mereka merasa heran tatkala memper­hatikan orang-orang yang tetap tidak memi­liki kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mende­ngar­kan suara hati nuraninya sebentar saja dan ber­pi­kir dengan jujur, maka mereka pun pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan Allah. Sebagaimana dinyata­kan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesem­purnaan ciptaan Allah benar-benar sangat mengesan­kan sehingga siapa pun yang mau mengguna­kan hati nuraninya dapat me­nyak­sikannya. Dalam sebuah ayat dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman me­mi­kirkan adanya keagungan di dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:

“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali Imran: 191).

Orang-orang beriman yang mere­nung­kan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang masuk di dalam kesadarannya menya­dari, bahwa penciptaan langit dan bumi meru­pa­kan tanda adanya kebijaksanaan dan keku­asaan yang abadi. Mereka menyadari bahwa Allah menyimpan ratusan dan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesem­purnaan. Tidak seba­gaimana perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, sese­orang mendapat bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan baha­gia. Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Semakin orang-orang beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang ter­dapat di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijak­sa­naan, dan keagungan Allah, dimana meru­pakan satu-satunya kawan dan pelin­dung bagi seseorang. Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan ber­lindung kepada-Nya dari azab-Nya, seba­gai­mana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.”

¨ Menyaksikan Rahmat dan Keindahan

Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan me­nya­dari bahwa apa pun peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya. Dengan demikian suatu kein­dah­an tertentu memiliki makna yang sangat berarti bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.
Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah karena mere­ka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggu­na­kan akalnya secara semes­tinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas keja­dian-kejadian yang ada hanya akan me­mahami penam­pakan lahirnya saja. Dengan demikian, rasa takjub mereka sangatlah terba­tas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang ber­kaitan dengan ke­iman­an dan maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka jumpai. Dengan demi­kian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.
Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang yang bersi­kap sombong kepada Allah tidak dapat me­nge­nali keindahan dan keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu ber­arti ia mengakui kekurangan dirinya. Kare­na ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk seba­gai­­mana mesti­nya. Bahkan andaikata ia mem­per­hatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih suka menjelas­kannya begitu saja dan menekan rasa keka­gum­annya.
Lepas dari sikap angkuh dan kepura-pura­an, orang-orang beriman tidak pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga mawar atau warna ungu yang dapat di­tangkap oleh mata, maka bang­kitlah kebaha­gia­­an memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”. Kein­dahan dan pesona yang terpancar dari makh­luk-makhluk meng­arahkan mereka untuk merenungkan keku­asa­an yang tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam pere­nungan ini mereka sema­kin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semua­nya itu adalah karunia dari Allah. Mereka mera­sa­kan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia bahwa sekali­pun semua ke­indahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang, namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebaha­giaan paling banyak dari rahmat-rahmat-Nya. Mereka merasa bersyu­kur bahwa Dia telah meng­anugerahkan kepada mereka kesem­patan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencu­rah­kan karunia-Nya kepa­da mereka, dan mereka merasakan kebaha­giaan yang amat sangat karena dapat bersyu­kur kepada Allah.
Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat ke­indah­an-keindahan ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk mensyukurinya. Mereka merasa diisti­me­wa­kan, karena banyak orang yang tidak dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan ruhani­nya. Namun mereka dapat melihat dan me­nik­mati keindahan-keindahan ini karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama. Selain itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna serta kebi­jakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka me­ningkatkan rasa takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya. Sebagaimana firman Allah:

 “Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya. Dan jika kamu meng­hitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (Q.s. Ibrahim: 34).

Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah mem­be­ri­kan semua karunia ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, pada­hal kalau mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).

Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.
Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa ke­baik­an membuat semangat mereka segar kem­bali. Orang beriman menyadari bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat, dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang ber­jalan ke arah kehidupan yang menyenang­kan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena Allah telah menetapkannya. Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat seperti berikut ini:

“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s. al-Qashash: 68).


“Dia mengeluarkan mereka dari kege­lap­an (kekufuran) kepada cahaya (iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).

“Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).

Seorang yang beriman tahu bahwa ia ber­hutang budi atas rahmat-rahmat yang dinik­matinya itu kepada Allah. Allah telah memi­lihnya, memberinya kesempatan untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari keja­hat­an, dan menciptakannya dengan kemam­puan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat menyenangkannya. Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja sungguh-sungguh demi menda­pat­kan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun perilakunya. Seba­gaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya keindah­an-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk mencapainya. Sema­ngat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam sabda Nabi Mu­ham­mad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim dan Ahmad).
Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanya­lah sedikit contoh dari hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Buku ini terlalu terbatas untuk me­nye­butkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhati­kan oleh orang-orang beriman. Cakrawa­la pandangan mereka luas, dan ke­mam­puan refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang beriman.
¨ Cinta dan Persahabatan

Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin bahwa adalah hal yang mus­tahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka beri­­kan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-ke­un­tungan yang dapat diraih, keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun berakhir.
Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya, seba­gai­mana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman yang tulus dan taat. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan kesalehannya yang telah membuat sese­orang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga mengetahui karak­teristik-karakteristik apa saja yang mesti dimi­likinya agar dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.
Selama pemahaman mengenai hal ini se­nan­tiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani meli­puti diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memper­lihatkan akhlak yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda ada­nya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk ber­usaha meraih kedudukan yang tinggi di akhi­rat kelak. Begitulah, mereka merasa bahagia bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai para ke­kasih-Nya.
Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan berkurang atau ber­akhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal secara sempurna. Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang beriman berbeda dengan pema­ham­an masyarakat jahiliah. Cinta dan per­sa­habatan pada masyarakat jahiliah tidak dilan­dasi niat untuk senantiasa bersama selama-lama­nya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kese­tiaan, kepercayaan, dan amanah yang sejati. Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan membuat suatu syarat khusus yang melan­dasi persaha­bat­an mereka, maka itu berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak yang menya­dari adanya kemungkinan ini pun lalu ber­sikap saling hati-hati satu sama lain dan merasa tidak nyaman. Kehatian-hatian me­rusak ketulusan, dimana hal ini merupa­kan pra­syarat dalam menjalin cinta dan per­sahabatan. Dalam hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa mem­perhi­tung­kan adanya kemungkinan berakhirnya persaha­bat­an mereka dan, dengan demikian, mereka pun menghindari untuk menun­juk­kan sifat ketulusan dimana nan­tinya dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah ber­akhir.
Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki komitmen untuk menun­jukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada putus-putusnya. Karak­teristik isti­mewa mengenai cinta dan persahabatan dari orang-orang beriman ini, yaitu kesedia­an untuk bersama-sama selama-lamanya, membuat mereka dapat memperoleh kebaha­giaan yang besar dari kasih sayang yang mereka alami serta kegem­biraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti. Ini juga merupa­kan kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan ber­sikap setia kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lama­nya.

¨ Melindungi Kebenaran

“Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluar­kan­lah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelin­dung dari sisi Engkau, dan berilah kami peno­long dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).

Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan upaya untuk me­lindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan men­jamin adanya keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang beriman.
Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk menye­la­matkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan material. Untuk tujuan ini­lah gairah dan semangat mereka mem­beri­kan keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.
Allah juga meminta tanggung jawab kepa­da orang-orang beriman untuk meme­rangi kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Meme­rangi kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamai­an serta kesejahteraan adalah terma­suk dian­tara perbuatan-perbuatan yang paling mulia dan luhur bagi kemanusiaan. Mengenai pen­tingnya memenuhi tugas untuk mencegah kemung­­karan ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:

“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik.” (Q.s. al-A‘raf: 165).

Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang di­sebutkan karena semangat dan keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan me­me­rangi kemungkaran. Nabi Musa a.s. misal­nya, telah berjuang keras untuk menye­la­matkan Bani Israel dari tirani Fir‘aun. Dalam al-Qur’an, Fir‘aun digambarkan sebagai “Berbuat sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang melampaui batas.” (Q.s. Yunus: 83). Dia telah memper­budak bangsa Mesir, membunuh anak laki-laki mereka dan menis­takan anak-anak pe­rem­puan mereka. Allah mewahyukan kepada Nabi Musa a.s.:

“Maka datanglah kamu berdua kepada­nya (Fir‘aun) dan katakanlah: ‘Sesung­guh­nya kami berdua adalah utusan Tuhan­mu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s. Thaha: 47).

Maka beliau pun mendatangi Fir‘aun dan memintanya untuk menghentikan tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir bersamanya.
Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir‘aun pun tamat riwa­­yat­nya. Selain itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil dari semangat dan keteguhan yang diper­lihatkannya, Allah pun memberikan keme­nangan kepada beliau dan para peng­ikutnya atas diri Fir‘aun.
Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang ber­iman senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban ketika menghadapi orang-orang yang melaku­kan keangkaramurkaan, tidak adil, dan me­men­tingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas. Dalam melakukan hal ini, mereka merasakan gairah dan keba­hagiaan karena dapat memenuhi perintah Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadil­an yang disukai oleh Allah, mendengar­kan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai Qur’ani, dan men­jaga keselamatan orang-orang yang tidak ber­dosa. Maka mereka pun memperoleh kebaha­giaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala yang mereka terima.
Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk mem­peroleh keridhaan Allah akan mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amal­nya pun menjadi semakin ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”

¨ Ibadah

Bagi orang-orang beriman mencari keri­dha­an dan kecintaan Allah merupakan suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian, sepanjang hayat­nya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:

“Hai orang-orang beriman, bertak­wa­lah kepada Allah dan carilah jalan yang mende­katkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).

Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat men­dekatkan diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah adanya keikhlasan dan semangat yang dirasa­kan oleh seseorang ketika sedang beribadah. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).

Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibuk­kan diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu kewa­jiban dalam beribadah. Mereka mema­hami bahwa keikhlasan adalah sifat yang paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas karena Allah mendapat peng­har­gaan yang besar di mata Allah, juga dise­butkan di dalam sebuah Hadis Nabi Muham­mad saw., di mana seorang muk­min yang baik digambarkan sebagai seseorang yang merasa­kan kebahagiaan ketika menger­jakan shalat, menja­lankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan mena­ati-Nya ketika sedang dalam keadaan sunyi. Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh mengenai semangat dan gairah yang dirasa­kan oleh orang-orang beriman dalam menjalan­kan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebut­kan dalam halaman-halaman selanjutnya.
¨ Membaca al-Qur’an

Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gam­baran mengenai orang-orang ber­iman:

“Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan ber­tasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.” (Q.s. as-Sajdah: 15).

Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba Allah.
Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan Allah terhadap diri mere­ka. Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang jernih sehingga mereka dapat mema­hami semua itu. Dengan demikian, mereka pun merasa dekat kepada Allah dan merasa­kan adanya keterikatan yang mendalam dengan-Nya, yang memberikan mereka pera­saan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyata­kan bahwa orang-orang beriman me­nyung­kur sujud, menangis karena perasaan yang mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:

“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepada­Nya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil ber­sujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).

Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberi­tahukan bahwa al-Qur’an, manakala dibaca­kan kepada orang-orang beriman, me­ningkat­kan rasa rendah diri mereka, yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:

“Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari ketu­runan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.” (Q.s. Maryam: 58).

Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu meng­ingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada se­orang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar: 23).

Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an dan berdzi­kir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan membuat baik semua hal yang merisau­kanmu. Bacalah al-Qur’an dan senan­tiasalah mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).

¨ Doa

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku menga­bulkan permohonan orang yang mendoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendak­lah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).

Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucap­kan atau pikirkan adalah penye­bab mun­culnya rasa suka cita bagi orang-orang beriman, rasa suka cita karena menge­tahui bahwa Allah ada bersama mereka, per­lin­­dung­an-Nya yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya ter­hadap mereka. Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka dengan perasaan yang sangat menda­lam, benar-benar merasakan perlunya menda­pat bimbingan dari-Nya, dan senan­tiasa me­mo­hon pertolongan-Nya setiap saat. Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk me­min­ta apa saja kepada Allah. Setiap orang ber­peluang untuk memohon apa saja yang diper­lukannya, baik hal itu penting atau tidak pen­ting, yang sifat­nya ruhaniah maupun material. Allah men­jawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai dengan apa yang terbaik bagi mereka.

¨ Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah

Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk meng­harapkan bahwa ada seseorang yang menge­tahui segala hal atau dapat melakukan apa saja dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia. Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya yang abadi. Itulah sebab­nya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melaku­kan ujian. Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melaku­kan kesalahan, namun sesegera mungkin meng­­ikuti kebenaran begitu mengenalinya, dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelum­nya. Proses ini terus berkesinambungan me­nu­ju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka pun meminta ampunan dari Allah dan ber­tobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan keba­hagiaan ruhaniah.
Manakala orang-orang beriman melaku­kan kesalahan, mereka tidak memper­lihatkan sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan mengam­puni mereka. Begitu mereka menya­dari bahwa mereka telah melakukan suatu perbu­at­an dosa, mereka segera meminta perlin­dung­an kepada Allah dan memohon ampun­an-Nya. Allah meng­gam­barkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas ini di dalam al-Qur’an:

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau meng­aniaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat meng­ampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s. Ali Imran: 135).

Kabar gembira dari Allah bahwa Dia mene­­rima tobat dari hamba-hamba-Nya yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegem­biraan. Hal ini karena hingga kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini memiliki kesem­patan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut untuk mema­suki surga. Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap semua umat manusia sebagai berikut:

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah meng­ampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).

Dengan merasakan kasih sayang dan rah­mat Allah kepada mereka dan meng­harapkan ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.

¨ Menyampaikan Nilai-nilai
Luhur al-Qur’an

Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia yang menyeru kepada kebaikan:

“Dan hendaklah ada di antara kamu sego­longan umat yang menyeru kepada keba­jikan, menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).

Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman memiliki keikhlasan, berupaya untuk me­nyam­paikan kebaikan nilai-nilai akhlak yang terdapat di dalam al-Qur’an, menun­jukkan kerusakan akh­lak yang terdapat di tengah-tengah masya­rakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing manu­sia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian dan kenya­man­an dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharap­kan agar orang lain juga dapat mengalami hal yang sama. Selanjutnya, karena mengetahui bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan yang kekal dengan cara mendo­rong mereka untuk menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah, karena amal-amal sese­orang di dunia ini menentukan kehidup­an abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang ber­iman. Dengan alasan inilah mereka punya komit­men untuk mengorban­kan apa saja dalam rangka menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampun­an dan kasih sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau ber­tahun-tahun, siang dan malam, guna mem­ban­tu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami yang baik. Demikian pula, mereka pun dengan berse­ma­ngat mengeluarkan harta kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan mem­berikan kekuatan yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan paling bijaksana.
Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah sekadar menyam­paikan pesan, sedangkan Allahlah yang se­sung­guhnya memberikan hidayah kepada seseorang. Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Mu­ham­­mad saw. telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi usaha-usaha yang telah beliau saw. ker­jakan tadi tetap mendapatkan ganjaran, dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash: 56).

Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya, mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat mereka. Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. telah di­gambarkan sebagai berikut:

“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku malam dan siang, namun dakwah itu hanya menam­bah mereka lari (dari kebenaran). Dan se­sung­guh­nya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (meng­ing­kari) dan sangat me­nyom­bong­kan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemu­dian sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Peng­ampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).

Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mende­ngarkan kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam men­ja­lankan perintah Allah untuk menyam­pai­kan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak men­cela sikap mereka namun beliau terus saja melan­jut­kan tugasnya dengan keteguhan yang tiada henti. Meskipun umatnya menun­jukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari cara-cara lain yang memungkinkan guna melunak­kan hati mereka. Niat beliau adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masya­rakat jahiliah dengan cara meng­ingat­kan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka maupun tertutup.
Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjar­an. Insya Allah, setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurah­kan di jalan-Nya akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.

“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji (Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah berbuat mungkar dan yang meme­lihara hukum-hukum Allah. Dan gembira­kanlah orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).

¨ Berpikir tentang Surga

Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana. Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehi­dupan dunia ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana. Surga diciptakan bukan sebagai ujian, sebagai­mana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat untuk mem­berikan ganjaran. Lagi pula, Allah me­mang sengaja menciptakan dunia ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga dan berju­ang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai kesempurnaan, seumur hidupnya mengingin­kan surga dengan semangat yang lebih besar lagi.
Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang untuk menghin­dari­nya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan orang-orang yang meng­ikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang beriman dan berupaya me­nin­das mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan sebagai bukti keadilan Allah. Bagai­mana ganjaran yang akan diterima oleh orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman tatkala mereka menyaksikannya, dinya­ta­kan di dalam al-Qur’an:

“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Se­sung­guhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang beriman menertawakan orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang. Sesungguh­nya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu mereka kerja­kan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).


Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin. Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan rasa suka cita di hati orang-orang beriman.
Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah sumber kebaha­gia­an utama. Mereka akan bertemu dengan mala­i­kat-malaikat Allah yang akan mengantar mere­ka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi. Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat berada dalam keda­maian dan keaman­an. Harapan ini membuat orang-orang beriman merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di dalam surga nanti digambar­kan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istri­nya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra‘d: 23-4).

“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).

Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa wujudnya. Namun yang lebih mem­bahagiakan lagi daripada itu adalah manakala mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah dan Allah menye­diakan bagi mereka surga-surga yang meng­alir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah keme­nangan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).

Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:

“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.”  (Q.s. at-Taubah: 72).

Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang beriman mengenai karunia surga:

“Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s. Yasin: 85).

Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi per­juangan tulus yang telah dilakukan oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.
Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia, sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindah­an dan karunia yang selama ini pernah di­inginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat dibayangkannya. Cakrawala pan­dang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk dapat memberikan gambaran yang sepe­­nuhnya mengenai berbagai macam karunia abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada henti-hentinya bagi orang-orang ber­iman. Memikirkan hadiah-hadiah menge­jut­kan ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selama­nya membuat mereka merasa sangat berba­hagia.
Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui karunia-karunia tertentu di surga, karena telah men­dapatkan gambaran-gambaran dari al-Qur’an. Misal­nya, orang-orang beriman menge­ta­hui bahwa kelak mereka akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh terdahulu dan akan mendapatkan peng­hormatan menjadi sahabat-sahabat orang-orang suci yang diridhai oleh Allah. Mereka akan menemui cinta dan persahabatan sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.
Setan tak akan dapat mendekati para pen­du­duk surga; ia akan dilemparkan ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadap­an Tuhan mereka. Di sana tidak akan dijum­pai akhlak-akhlak buruk yang ada pada ma­sya­rakat jahiliah (seperti kebencian, kemarah­an atau dengki); semua sifat-sifat jelek ini akan hilang untuk selama-lamanya.
Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-ren­cana jahat dari orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka. Semua orang akan diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat. Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi berjalan; suatu kehidupan baru dengan ke­nikmatan-kenikmatan baru telah tersedia untuk mereka yang imannya terjamin. Selain itu, surga adalah sebuah tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai, pohon-pohon yang senantiasa ber­buah dan mudah dipetik, sungai madu, dan keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.
Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit untuk diba­yangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas selama ratusan, ribu­an, miliaran, atau triliunan tahun ... namun kehidupan di sana adalah kehidupan yang kekal abadi. Manusia tidak akan merasa letih dan jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya dalam setiap saat yang di­lewati­­nya.
Memikirkan tentang kenikmatan-kenik­matan ini, sementara dirinya masih berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupa­kan sumber semangat dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rang­sang­an untuk memperoleh kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi sema­kin bergairah dan melakukan upaya-upaya yang lebih ba­nyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak menjadi penghuni surga. Sebagai­mana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk menjadi pemenang terbaik untuk men­da­patkan “surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran: 133).