Dalam masyarakat-masyarakat yang jauh dari nilai-nilai al-Qur’an, kata
“kegairahan” sering mengungkapkan perasaan gelisah, cemas, stress dan marah
saat menghadapi peristiwa-peristiwa tertentu. Ia bukanlah perasaan positif
melainkan sesuatu yang menyedihkan. Kegairahan orang-orang beriman,
sebaliknya, adalah perasaan yang meluap-luap yang dialami karena memikirkan
keindahan Allah, karunia-karunia-Nya, dan kehidupan abadi di surga.
Orang-orang yang tidak memiliki iman mengalami perasaan sedih karena mereka
tidak bertawakal kepada Allah. Bertawakal kepada Allah berarti menjadikan
Allah sebagai pelindung dan tempat bersandar. Karena orang-orang yang lalai
tidak menghargai kebesaran Allah, mereka tidak dapat mengalami perasaan tawakal
dan berserah diri. Tidak juga menjadikan Allah sebagai pelindungnya, mereka
berharap akan menerima bantuan dari sumber-sumber keduniawian. Karena alasan
ini mereka tidak dapat membebaskan diri dari ketakutan dan kecemasan.
Namun, orang-orang beriman tidak dilanda perasaan sedih sebagaimana
dialami oleh masyarakat jahiliah berkat tawakal mereka kepada Allah. Mereka
adalah orang-orang yang mengalami kegairahan iman yang dilukiskan oleh
al-Qur’an, sebagai sifat orang-orang beriman. Itu disebabkan karena mereka
sadar bahwa setiap kejadian diciptakan untuk tujuan Ilahi dan, dengan demikian,
merenungkan dalam-dalam untuk memahami tujuan-tujuan Ilahi. Dengan
menggunakan kesadaran, mereka dapat dengan mudah melihat tujuan-tujuan yang
tersembunyi dalam detail-detail yang sangat lembut. Ketika dibandingkan
dengan orang-orang yang lalai, mereka memperlihatkan kepekaan yang lebih besar
terhadap kejadian yang sama, mendapat kesenangan dan kegairahan yang lebih
besar darinya. Mereka mengalami kegairahan karena mengetahui bahwa mereka
diciptakan bukan dari apa-apa dan masuk ke sebuah dunia yang penuh warna di
mana ratusan ribu, bahkan jutaan keajaiban muncul bersama dalam waktu yang
sama. Ke mana pun mereka memandang, mereka melihat keindahan Allah: alam
semesta, angkasa, mata hari, bulan, kupu-kupu, jutaan binatang, tanaman,
buah-buahan, dan sebagainya. Seorang mukmin merasa sangat berbunga-bunga
ketika dia membayangkan semua ini.
APA YANG MEMBANGKITKAN GAIRAH ORANG - ORANG BERIMAN
¨ Pengamatan atas Keindahan Ciptaan Allah
Kemana pun seseorang memandang, ia akan mendapati contoh-contoh indahnya
ciptaan Allah yang menakjubkan. Di dalam ayat-ayat al-Qur’an Allah berfirman:
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di
segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa
al-Qur’an itu adalah benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa
sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (Q.s. Fushilat: 53).
Orang-orang beriman senantiasa bangkit gairahnya tatkala mereka memperhatikan
susunan dan kesempurnaan yang terus menerus diciptakan oleh Allah di setiap
sudut alam semesta ini. Mereka menyaksikan adanya kebijakan, keagungan, dan
keindahan tiada tara di balik keajaiban-keajaiban ini, dan timbul perasaan
bahagia di dalam hatinya ketika merenungkan keagungan ciptaan Allah tadi.
Mereka merasa heran tatkala memperhatikan orang-orang yang tetap tidak memiliki
kepekaan atas keajaiban-keajaiban ini. Jika orang-orang semacam itu mau mendengarkan
suara hati nuraninya sebentar saja dan berpikir dengan jujur, maka mereka pun
pasti akan merasakan keagungan dan betapa eloknya ciptaan
Allah. Sebagaimana dinyatakan di dalam banyak ayat al-Qur’an, kesempurnaan
ciptaan Allah benar-benar sangat mengesankan sehingga siapa pun yang mau
menggunakan hati nuraninya dapat menyaksikannya. Dalam sebuah ayat
dinyatakan bahwa ketika orang-orang beriman memikirkan adanya keagungan di
dalam ciptaan Allah, mereka pun merasa takjub:
“(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau
dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan
bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan
sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka’.” (Q.s. Ali
Imran: 191).
Orang-orang beriman yang merenungkan dengan sungguh-sungguh hal-hal yang
masuk di dalam kesadarannya menyadari, bahwa penciptaan langit dan bumi merupakan
tanda adanya kebijaksanaan dan kekuasaan yang abadi. Mereka menyadari bahwa
Allah menyimpan ratusan dan ribuan maksud dalam setiap ciptaan-Nya dan mereka
benar-benar merasa sangat takjub susunannya atas kesempurnaan. Tidak sebagaimana
perasaan gusar yang dimiliki oleh masyarakat jahiliah, seseorang mendapat
bimbingan ke jalan Allah yang lurus karena adanya rasa takjub dan bahagia.
Konsekuensi dari rasa takjub dan pemahaman yang menyeluruh ini adalah semakin
kuat rasa keimanan, bahwa tidak ada tuhan selain Allah. Semakin orang-orang
beriman berpikir mengenai keindahan dan keelokan makhluk-makhluk yang terdapat
di sekitar mereka, maka mereka pun semakin menyadari kekuasaan, kebijaksanaan,
dan keagungan Allah, dimana merupakan satu-satunya kawan dan pelindung bagi
seseorang. Mereka pun bersegera berdzikir kepada-Nya, memuji-Nya, dan berlindung
kepada-Nya dari azab-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas tadi: “Ya
Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau,
maka peliharalah kami dari siksa neraka.”
¨ Menyaksikan Rahmat dan Keindahan
Orang-orang yang paling merasakan takjub atas berbagai rahmat Allah dan
mendapatkan paling banyak kenikmatan darinya adalah mereka yang beriman. Mereka
tahu bahwa segala sesuatu adalah ciptaan Allah dan menyadari bahwa apa pun
peristiwa yang mereka temui dan mereka lihat merupakan rahmat daripada-Nya.
Dengan demikian suatu keindahan tertentu memiliki makna yang sangat berarti
bagi mereka dibandingkan bagi orang-orang lainnya.
Alasan lain mengapa orang-orang beriman dapat merasakan takjub, adalah
karena mereka dapat memperhatikan secara rinci dan detail apa-apa yang tidak
dapat dilihat oleh orang lain. Mereka yang tidak dapat menggunakan akalnya
secara semestinya dan tidak merenungkan secara mendalam atas kejadian-kejadian
yang ada hanya akan memahami penampakan lahirnya saja. Dengan demikian, rasa
takjub mereka sangatlah terbatas. Akan tetapi sebaliknya, bagi orang-orang
beriman, mereka mampu melihat sisi-sisi yang berkaitan dengan keimanan dan
maksud-maksud Ilahiah yang terkandung di dalam segala sesuatu yang mereka
jumpai. Dengan demikian, mereka dapat menghargai banyak detail dan rahmat yang
memberikan kebahagiaan serta rasa kagum yang lebih besar.
Alasan lainnya lagi mengapa orang-orang beriman dapat melihat rahmat-rahmat
ini secara mendetail dan lebih memiliki kesan adalah sebagai berikut: seseorang
yang bersikap sombong kepada Allah tidak dapat mengenali keindahan dan
keajaiban ciptaan-Nya, karena bila ia mengakui kekuasaan Allah itu berarti ia
mengakui kekurangan dirinya. Karena ia tidak dapat menerima hal ini, maka ia
pun tidak akan mampu melihat keindahan yang terdapat pada makhluk-makhluk sebagaimana
mestinya. Bahkan andaikata ia memperhatikan makhluk-makhluk itu, ia lebih
suka menjelaskannya begitu saja dan menekan rasa kekagumannya.
Lepas dari sikap angkuh dan kepura-puraan, orang-orang beriman tidak
pernah luput dalam menghargai keindahan benda-benda dan menyaksikan kehebatan
ciptaan Allah, dan mereka pun menyatakan perasaan dalam hatinya serta
kekagumannya secara terbuka. Misal, tatkala mereka menyaksikan sekuntum bunga
mawar atau warna ungu yang dapat ditangkap oleh mata, maka bangkitlah kebahagiaan
memandang keindahan itu dan mereka pun menyadari bahwa ini adalah perwujudan
dari sifat Allah yang indah “al-Jamil”. Keindahan dan pesona yang terpancar
dari makhluk-makhluk mengarahkan mereka untuk merenungkan kekuasaan yang
tidak terhingga serta keindahan sang Pencipta. Dalam perenungan ini mereka
semakin merasa takjub, karena mereka dapat merasakan bahwa semua keindahan ini
telah diciptakan untuk mereka dan bahwa semuanya itu adalah karunia dari
Allah. Mereka merasakan kekaguman dengan mengetahui bahwa semua itu adalah
tanda-tanda kasih sayang Allah kepada mereka. Mereka berpikir dengan bahagia
bahwa sekalipun semua keindahan ini tidak banyak berarti bagi banyak orang,
namun mereka telah menjadi orang-orang yang beruntung, telah menjadi
kekasih-kekasih Allah yang mendapatkan kebahagiaan paling banyak dari
rahmat-rahmat-Nya. Mereka merasa bersyukur bahwa Dia telah menganugerahkan
kepada mereka kesempatan untuk melihat keindahan-keindahan ini dan telah mencurahkan
karunia-Nya kepada mereka, dan mereka merasakan kebahagiaan yang amat sangat
karena dapat bersyukur kepada Allah.
Mereka merasa bahagia karena Allah telah memberinya mata untuk melihat keindahan-keindahan
ini, kesadaran yang jernih untuk memahaminya, dan keimanan yang tulus untuk
mensyukurinya. Mereka merasa diistimewakan, karena banyak orang yang tidak
dapat menikmati kebahagiaan dari hal-hal yang indah diakibatkan oleh kebutaan
ruhaninya. Namun mereka dapat melihat dan menikmati keindahan-keindahan ini
karena Allah telah memilih mereka dan menjadikan mereka mencintai agama. Selain
itu, setelah mereka merenungkan berbagai rahmat, desain-desainnya yang sempurna
serta kebijakan abadi yang terwujud di dalamnya, mereka meningkatkan rasa
takzim kepada Allah dan kekaguman mereka atas keindahan ciptaan-Nya.
Sebagaimana firman Allah:
“Dan Dia telah
memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu minta kepadanya.
Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya.
Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).”
(Q.s. Ibrahim: 34).
Dengan demikian, mereka dalam keadaan takjub atas berbagai karunia yang
tidak terkira jumlahnya yang ada di dunia ini. Dengan rasa syukur kepada Allah
mereka bergembira karena berpikir bahwa Allah telah memberikan semua karunia
ini dari rahmat-Nya; Ia telah memberikan karunia sebanyak ini, padahal kalau
mau dapat saja Ia memberinya lebih sedikit dari ini. Allah berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat)
kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku
sangat pedih.” (Q.s. Ibrahim: 7).
Dengan mengingat bahwa Allah akan menambah nikmat lebih banyak lagi kepada
mereka yang bersyukur adalah kebahagiaan tambahan.
Dengan mengetahui bahwa Allah telah menciptakan bagi mereka masa hidup yang
penuh dengan karunia dan keindahan serta suatu takdir yang senantiasa membawa
kebaikan membuat semangat mereka segar kembali. Orang beriman menyadari
bahwa Allah melindungi dan melimpahkan kasih sayang-Nya kepadanya setiap saat,
dan kedua hal ini adalah karunia dari-Nya. Sungguh, Allah melimpahkan kasih
sayangnya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan seseorang berjalan ke arah
kehidupan yang menyenangkan dan membahagiakan hanyalah semata-mata karena
Allah telah menetapkannya. Fakta ini telah ditekankan di dalam banyak ayat
seperti berikut ini:
“Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.” (Q.s.
al-Qashash: 68).
“Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekufuran) kepada cahaya
(iman).” (Q.s. al-Baqarah: 257).
“Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan
yang lurus.” (Q.s. al-Baqarah: 213).
Seorang yang beriman tahu bahwa ia berhutang budi atas rahmat-rahmat yang
dinikmatinya itu kepada Allah. Allah telah memilihnya, memberinya kesempatan
untuk hidup dengan nyaman, menjauhkannya dari kejahatan, dan menciptakannya
dengan kemampuan-kemampuan khusus, dimana hal ini benar-benar sangat
menyenangkannya. Dengan gairah ia pun kembali kepada-Nya dan bekerja
sungguh-sungguh demi mendapatkan keridhaan-Nya, baik melalui sikap maupun
perilakunya. Sebagaimana ketika ia mengamati keindahan-keindahan yang ada di
dunia ini, ia berpikir tentang surga, pasti betapa sempurna dan tiada cacatnya
keindahan-keindahan di surga sana, dan menjadi sangat bergairah untuk
mencapainya. Semangat yang ada pada diri orang-orang beriman dinyatakan dalam
sabda Nabi Muhammad saw.: “Sungguh, dalam setiap tasbih adalah sedekah, dalam
setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan dalam
mengatakan ‘Tidak ada tuhan selain Allah’ adalah sedekah pula.” (H.r. Muslim
dan Ahmad).
Apa yang telah disebutkan di atas tadi hanyalah sedikit contoh dari
hal-hal yang membangkitkan gairah orang-orang beriman. Buku ini terlalu
terbatas untuk menyebutkan semua rincian tentang hal-hal yang diperhatikan
oleh orang-orang beriman. Cakrawala pandangan mereka luas, dan kemampuan
refleksi mereka juga kuat. Kesenangan yang tidak pernah dialami oleh
orang-orang kafir adalah karunia besar yang dianugerahkan kepada orang-orang
beriman.
¨ Cinta dan Persahabatan
Kebanyakan orang mengeluh karena tidak dapat menemukan cinta dan
persahabatan sejati di sepanjang hidup mereka dan benar-benar merasa yakin
bahwa adalah hal yang mustahil untuk mendapatkannya. Hal ini memang benar bagi
mereka yang hidup di tengah-tengah masyarakat jahiliah, yang tidak pernah
meraih cinta dan persahabatan sejati, oleh karena rasa kasih sayang yang mereka
berikan satu sama lain sering kali adalah karena dorongan kepentingan. Begitu
mereka tidak lagi mendapatkan keuntungan-keuntungan yang dapat diraih,
keakraban yang selama ini mereka anggap sebagai cinta atau persahabatan pun
berakhir.
Orang-orang yang mengalami cinta dan persahabatan sejati serta menjalaninya
dengan makna yang sesungguhnya adalah orang-orang beriman. Alasan utamanya,
sebagaimana dinyatakan di muka dalam buku ini, adalah karena mereka mencintai
satu sama lain, bukan karena mencari keuntungan, namun hanyalah semata-mata
karena orang-orang yang mereka cintai itu adalah orang-orang yang memiliki iman
yang tulus dan taat. Apa yang membuat seseorang dicintai dan memiliki daya
tarik untuk dijadikan teman adalah karena ketakwaannya kepada Allah, dan
kesalehannya yang telah membuat seseorang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an
secara cermat. Seseorang yang hidup dengan nilai-nilai al-Qur’an juga
mengetahui karakteristik-karakteristik apa saja yang mesti dimilikinya agar
dapat dijadikan sebagai seorang teman yang berharga, dan dia pun mengambil
karakteristik-karakteristik ini sesempurna mungkin. Dan demikian pula, ia pun
dapat mengapresiasi karakteristik-karakteristik yang dapat dikagumi pada orang
lain dan dapat mencintai dengan sesungguhnya.
Selama pemahaman mengenai hal ini senantiasa ada dan nilai-nilai Qur’ani
meliputi diri mereka, kebahagiaan yang diperoleh dari cinta dan persahabatan
tidak pernah hilang. Lebih jauh lagi, semakin orang itu memperlihatkan akhlak
yang baik, kesenangan dan kebahagiaan yang mereka dapati dari cinta dan
persahabatan pun senantiasa meningkat. Tatkala mereka saling memperhatikan satu
sama lain sifat-sifat khas yang ada pada diri orang-orang beriman, tanda-tanda
adanya iman dan nurani, ketulusan, ketakwaan kepada Allah dan kesalehan, maka
gairah mereka pun semakin tumbuh subur. Gairah mereka terasa terbangkitkan
karena berada di tengah-tengah lingkungan orang-orang yang mendapat keridhaan
dan kasih sayang dari Allah serta senantiasa cenderung untuk berusaha meraih
kedudukan yang tinggi di akhirat kelak. Begitulah, mereka merasa bahagia
bersahabat dengan orang-orang yang oleh Allah sendiri telah dijadikan sebagai
para kekasih-Nya.
Oleh karena kecintaan di antara mereka dilandasi oleh sebuah pemahaman
tentang persahabatan yang kekal selamanya, maka kecintaan itu tidak akan
berkurang atau berakhir dengan adanya kematian. Sebaliknya, justru makin kekal
secara sempurna. Dari aspek inilah pemahaman tentang cinta bagi orang-orang
beriman berbeda dengan pemahaman masyarakat jahiliah. Cinta dan persahabatan
pada masyarakat jahiliah tidak dilandasi niat untuk senantiasa bersama
selama-lamanya, maka mereka pun tidak dapat mempraktikkan konsep-konsep kesetiaan,
kepercayaan, dan amanah yang sejati. Jika dua orang yang mengaku sebagai kawan
membuat suatu syarat khusus yang melandasi persahabatan mereka, maka itu
berarti mereka dapat mengakhiri pertemanan mereka kapan saja. Kedua belah pihak
yang menyadari adanya kemungkinan ini pun lalu bersikap saling hati-hati satu
sama lain dan merasa tidak nyaman. Kehatian-hatian merusak ketulusan, dimana
hal ini merupakan prasyarat dalam menjalin cinta dan persahabatan. Dalam
hubungan-hubungan yang sifatnya duniawi orang-orang senantiasa memperhitungkan
adanya kemungkinan berakhirnya persahabatan mereka dan, dengan demikian,
mereka pun menghindari untuk menunjukkan sifat ketulusan dimana nantinya
dapat membuat mereka merasa malu bila kelak keramah-tamahan ini telah berakhir.
Di lain pihak, bagi orang-orang beriman, mereka memiliki ketulusan dan
tidak pernah bersikap pura-pura. Seseorang yang berniat untuk bersama-sama
dengan orang lain untuk selama-lamanya adalah seseorang yang telah memiliki
komitmen untuk menunjukkan kesetiaan, cinta, dan persahabatan yang tiada
putus-putusnya. Karakteristik istimewa mengenai cinta dan persahabatan dari
orang-orang beriman ini, yaitu kesediaan untuk bersama-sama selama-lamanya,
membuat mereka dapat memperoleh kebahagiaan yang besar dari kasih sayang yang
mereka alami serta kegembiraan karena punya harapan untuk berada bersama-sama
dengan orang-orang yang mereka cintai di surga nanti. Ini juga merupakan
kesenangan, karena adanya kepastian, sehingga mereka akan bersikap setia
kepada orang-orang yang mereka cintai selama-lamanya.
¨ Melindungi Kebenaran
“Mengapa kamu tidak mau berperang demi membela agama Allah dan (membela)
orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang
semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah)
yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan
berilah kami penolong dari sisi Engkau’.” (Q.s. an-Nisa’: 75).
Di dalam ayat ini Allah meminta perhatian atas situasi orang-orang yang
tertindas dan menunggu adanya dukungan atau sekutu. Ayat ini berkenaan dengan
upaya untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah yang tidak mampu untuk
membela hak-hak mereka sendiri, menolong mereka dan menjamin adanya
keselamatan atas diri mereka sebagai sebuah tanggung jawab bagi orang-orang
beriman.
Orang-orang beriman yang memiliki kesadaran atas tanggung jawab-tanggung
jawab mereka merasakan adanya hasrat dan keinginan yang sangat besar untuk
menyelamatkan orang-orang yang tertindas hanya karena mereka beriman kepada
Allah. Mereka memiliki nurani dan pemahaman yang tepat tentang keadilan, maka
mereka pun tidak pernah mau memaafkan adanya penindasan terhadap orang-orang
yang tidak bersalah; maka, mereka pun memberikan dukungan secara moral dan
material. Untuk tujuan inilah gairah dan semangat mereka memberikan
keberanian dan kekuatan yang sangat besar kepada mereka.
Allah juga meminta tanggung jawab kepada orang-orang beriman untuk memerangi
kemungkaran dan mencegahnya, dimana hal ini menambah semangat mereka. Memerangi
kemungkaran, menghapuskan tirani dari muka bumi, dan mewujudkan perdamaian
serta kesejahteraan adalah termasuk diantara perbuatan-perbuatan yang paling
mulia dan luhur bagi kemanusiaan. Mengenai pentingnya memenuhi tugas untuk
mencegah kemungkaran ini dinyatakan di dalam al-Qur’an:
“Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka, Kami
selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan
kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu
berbuat fasik.” (Q.s. al-A‘raf: 165).
Di dalam al-Qur’an banyak nabi yang disebutkan karena semangat dan
keteguhan mereka dalam membela kebenaran dan memerangi kemungkaran. Nabi Musa
a.s. misalnya, telah berjuang keras untuk menyelamatkan Bani Israel dari
tirani Fir‘aun. Dalam al-Qur’an, Fir‘aun digambarkan sebagai “Berbuat
sewenang-wenang di muka bumi. Dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang
melampaui batas.” (Q.s.
Yunus: 83). Dia telah memperbudak bangsa Mesir, membunuh anak
laki-laki mereka dan menistakan anak-anak perempuan mereka. Allah mewahyukan
kepada Nabi Musa a.s.:
“Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir‘aun) dan katakanlah: ‘Sesungguhnya
kami berdua adalah utusan Tuhanmu, maka lepaskanlah Bani Israel bersama
kami dan janganlah kamu menyiksa mereka. Sesungguhnya kami telah datang
kepadamu dengan membawa bukti (atas kerasulan kami) dari Tuhanmu. Dan
keselamatan itu dilimpahkan kepada orang yang mengikuti petunjuk’.” (Q.s.
Thaha: 47).
Maka beliau pun mendatangi Fir‘aun dan memintanya untuk menghentikan
tiraninya atas bangsanya dan membiarkan mereka untuk meninggalkan Mesir
bersamanya.
Ayat ini memberikan contoh betapa Nabi Musa a.s. memikul tanggung jawab
untuk melindungi bangsanya, dan untuk inilah ia berjuang tiada henti selama
bertahun-tahun hingga akhirnya tirani Fir‘aun pun tamat riwayatnya. Selain
itu, beliau pun berjuang untuk memperkuat moral bangsanya, dan dengan sabar
menyeru mereka agar memohon pertolongan kepada Allah. Sungguh, sebagai hasil
dari semangat dan keteguhan yang diperlihatkannya, Allah pun memberikan kemenangan
kepada beliau dan para pengikutnya atas diri Fir‘aun.
Sebagaimana diungkapkan oleh contoh-contoh semacam ini, orang-orang beriman
senantiasa berada pada pihak yang benar, yaitu berada bersama-sama dengan orang-orang
yang memiliki kasih sayang, toleransi, sikap siap membantu dan rela berkorban
ketika menghadapi orang-orang yang melakukan keangkaramurkaan, tidak adil, dan
mementingkan diri sendiri. Mereka senantiasa berjuang untuk menghentikan
tirani para penindas dan membebaskan mereka yang tertindas. Dalam melakukan hal
ini, mereka merasakan gairah dan kebahagiaan karena dapat memenuhi perintah
Allah. Dan melalui amal kesalehan ini mereka menerapkan keadilan yang disukai
oleh Allah, mendengarkan suara hati nurani mereka, hidup dengan nilai-nilai
Qur’ani, dan menjaga keselamatan orang-orang yang tidak berdosa. Maka mereka
pun memperoleh kebahagiaan dari semua amal kebajikan ini dan pahala-pahala
yang mereka terima.
Komitmen dari orang-orang beriman dalam masalah ini meningkatkan akhlak
mereka. Badiuzzaman (Said Nursi) memberi tahu akan fakta bahwa mereka yang
memikul tanggung jawab besar dengan niat untuk memperoleh keridhaan Allah akan
mencapai kematangan moral: “Manakala seseorang punya komitmen pada dirinya
sendiri dengan tujuan-tujuan yang mulia, maka amal-amalnya pun menjadi semakin
ikhlas. Dan ketika ia melakukan amal-amal yang semakin banyak demi kepentingan
kaum muslimin, maka dia sendiri mencapai kematangan moral.”
¨ Ibadah
Bagi orang-orang beriman mencari keridhaan dan kecintaan Allah merupakan
suatu hal yang mendapat prioritas atas segala hal lainnya. Dengan demikian,
sepanjang hayatnya mereka terus menerus mencari jalan untuk makin mendekatkan
diri kepada-Nya. Allah telah memerintahkan:
“Hai orang-orang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya.” (Q.s. al-Ma’idah: 35).
Orang-orang beriman memandang bahwa menjalankan kewajiban-kewajiban ibadah
yang diperintahkan di dalam al-Qur’an adalah termasuk sarana yang dapat mendekatkan
diri mereka kepada Allah. Meskipun demikian, mereka menyadari bahwa hanya
melakukan hal ini saja tidaklah cukup, dan yang lebih penting lagi adalah
adanya keikhlasan dan semangat yang dirasakan oleh seseorang ketika sedang
beribadah. Sesungguhnya, Allah telah menyatakan bahwa daging dan darah dari
hewan-hewan korban itu tidak akan sampai kepada-Nya namun ketakwaan dari
orang-orang yang berkorban itulah yang akan sampai kepada-Nya:
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai
(keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.
Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan
Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang
yang berbuat baik.” (Q.s. al-Hajj: 37).
Kesadaran atas fakta ini mengarahkan orang-orang beriman untuk menyibukkan
diri di dalam amal-amal saleh dengan penuh semangat untuk menjalankan suatu
kewajiban dalam beribadah. Mereka memahami bahwa keikhlasan adalah sifat yang
paling dihargai oleh Allah. Bahwa amal-amal yang dikerjakan dengan ikhlas
karena Allah mendapat penghargaan yang besar di mata Allah, juga disebutkan
di dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw., di mana seorang mukmin yang baik
digambarkan sebagai seseorang yang merasakan kebahagiaan ketika mengerjakan
shalat, menjalankan ibadah kepada Tuhannya dengan sebaik-baiknya, dan menaati-Nya
ketika sedang dalam keadaan sunyi. Di dalam al-Qur’an banyak diberikan contoh
mengenai semangat dan gairah yang dirasakan oleh orang-orang beriman dalam
menjalankan ibadah. Beberapa di antaranya akan disebutkan dalam
halaman-halaman selanjutnya.
¨ Membaca al-Qur’an
Di dalam al-Qur’an Allah memberikan gambaran mengenai orang-orang beriman:
“Sesungguhnya orang-orang beriman dengan ayat-ayat Kami, adalah orang-orang
yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat (Kami), mereka menyungkur sujud dan
bertasbih serta memuji Tuhannya, sedang mereka tidak menyombongkan diri.”
(Q.s. as-Sajdah: 15).
Bersujud ketika dibacakan ayat-ayat al-Qur’an merupakan tanda adanya
keimanan yang kuat dan kebahagiaan yang mereka rasakan karena menjadi hamba
Allah.
Mereka merasa sangat bersuka cita karena memiliki al-Qur’an, kitab yang
diwahyukan Allah yang mencakup semua pengetahuan, dengan menyadari bahwa setiap
ayat dari al-Qur’an adalah manifestasi dari kasih sayang, rahmat, dan keadilan
Allah terhadap diri mereka. Lebih jauh lagi, mereka merasakan kebahagiaan yang
sangat besar di dalam jiwa mereka karena telah diberi nikmat kesadaran yang
jernih sehingga mereka dapat memahami semua itu. Dengan demikian, mereka pun
merasa dekat kepada Allah dan merasakan adanya keterikatan yang mendalam
dengan-Nya, yang memberikan mereka perasaan tenang. Di dalam al-Qur’an dinyatakan
bahwa orang-orang beriman menyungkur sujud, menangis karena perasaan yang
mereka alami tatkala mendengarkan firman-firman Allah:
“Katakanlah: ‘Berimanlah kamu kepadaNya atau tidak usah beriman (sama saja
bagi Allah).’ Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya
apabila al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka
sambil bersujud, dan mereka berkata: ‘Mahasuci Tuhan kami; sesungguhnya janji
Tuhan kami pasti dipenuhi.’ Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil
menangis dan mereka bertambah khusyuk.” (Q.s. al-Isra’: 107-9).
Di dalam ayat-ayat di atas Allah memberitahukan bahwa al-Qur’an, manakala
dibacakan kepada orang-orang beriman, meningkatkan rasa rendah diri mereka,
yaitu ketakutan dan rasa takzim mereka kepada-Nya. Dan Allah memberitahukan
kepada kita bahwa para nabi pun juga menyungkur sujud, sambil menangis karena
perasaan mereka ketika mendengar ayat-ayat Allah:
“Mereka adalah orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah, yaitu para
nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh,
dan dari keturunan Ibrahim dan Israel, dan dari orang-orang yang telah Kami
beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha
Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis.”
(Q.s. Maryam: 58).
Di dalam ayat lainnya dinyatakan bahwa kulit-kulit orang-orang beriman yang
takut kepada Allah bergetar manakala mereka mendengar ayat-ayat al-Qur’an:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) al-Qur’an yang
serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit
orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati
mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia
memberi petunjuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan
Allah, maka tidak ada seorang pun pemberi petunjuk baginya.” (Q.s. az-Zumar:
23).
Sebagaimana dinyatakan dalam sebuah Hadis Nabi Muhammad saw. bahwa
orang-orang beriman mengetahui bahwa pahala bagi mereka yang membaca al-Qur’an
dan berdzikir kepada Allah adalah begitu besarnya, dan hal itu semakin
menambah gairah mereka: “Bertakwalah kepada Allah, karena Dialah yang akan
membuat baik semua hal yang merisaukanmu. Bacalah al-Qur’an dan senantiasalah
mengingat Allah, karena dengan demikian kalian akan diingat pula di langit
sana, dan akan menjadi cahaya bagimu di muka bumi ini.” (H.r. Ahmad).
¨ Doa
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang mendoa
apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar
mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.s. al-Baqarah: 186).
Allah telah menyeru semua orang untuk berdoa. Dia telah memberitahukan
kepada mereka bahwa Dia lebih dekat kepada mereka dibandingkan urat leher
mereka sendiri. Dia mendengar mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya, dan Dia
pun akan menjawab doa-doa mereka. Kesempatan yang diberikan oleh Allah tersebut
kepada manusia dan bahwa Dia menjadi saksi atas segala hal yang mereka ucapkan
atau pikirkan adalah penyebab munculnya rasa suka cita bagi orang-orang
beriman, rasa suka cita karena mengetahui bahwa Allah ada bersama mereka, perlindungan-Nya
yang senantiasa diberikan atas diri-diri mereka, dan karunia-Nya terhadap
mereka. Dengan alasan inilah orang-orang beriman berlindung kepada Tuhan mereka
dengan perasaan yang sangat mendalam, benar-benar merasakan perlunya mendapat
bimbingan dari-Nya, dan senantiasa memohon pertolongan-Nya setiap saat.
Penyebab kegembiraan yang lain adalah bahwa tidak ada batas bagi mereka untuk
meminta apa saja kepada Allah. Setiap orang berpeluang untuk memohon apa
saja yang diperlukannya, baik hal itu penting atau tidak penting, yang sifatnya
ruhaniah maupun material. Allah menjawab doa dari hamba-hamba-Nya sesuai
dengan apa yang terbaik bagi mereka.
¨ Bertobat untuk Mendekatkan Diri kepada Allah
Manusia mudah membuat kesalahan. Adalah suatu hal yang mustahil untuk mengharapkan
bahwa ada seseorang yang mengetahui segala hal atau dapat melakukan apa saja
dengan sempurna karena dunia ini adalah tempat di mana Allah menguji manusia.
Manusia hanya akan tinggal sementara waktu saja di dunia, di mana dia akan
memperoleh sifat-sifat yang lebih baik melalui petunjuk Tuhannya, dan kemudian
akan melanjutkan perjalanannya ke akhirat, yang merupakan tempat tinggalnya
yang abadi. Itulah sebabnya mengapa kesalahan, ketidaksempurnaan dan kegagalan
adalah hal lumrah di dunia ini, dimana merupakan tempat untuk melakukan ujian.
Hal yang penting adalah bagaimana caranya untuk tidak terus menerus melakukan
kesalahan, namun sesegera mungkin mengikuti kebenaran begitu mengenalinya,
dan meninggalkan kebiasaan buruk sebelumnya. Proses ini terus berkesinambungan
menuju penyempurnaan, sekalipun orang-orang beriman menyadari bahwa mereka
adalah hamba-hamba Allah yang lemah dan tidak sempurna. Dengan demikian, mereka
pun meminta ampunan dari Allah dan bertobat. Tobat, suatu bentuk ibadah yang
penting dan diperintahkan di dalam al-Qur’an, membuat mereka merasakan kebahagiaan
ruhaniah.
Manakala orang-orang beriman melakukan kesalahan, mereka tidak memperlihatkan
sikap pesimis; akan tetapi mereka merasakan adanya harapan bahwa Allah akan
mengampuni mereka. Begitu mereka menyadari bahwa mereka telah melakukan suatu
perbuatan dosa, mereka segera meminta perlindungan kepada Allah dan memohon
ampunan-Nya. Allah menggambarkan karakteristik dari hamba-Nya yang ikhlas
ini di dalam al-Qur’an:
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya
diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa
mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan
mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (Q.s.
Ali Imran: 135).
Kabar gembira dari Allah bahwa Dia menerima tobat dari hamba-hamba-Nya
yang ikhlas mendatangkan harapan dan kegembiraan. Hal ini karena hingga
kematian datang kepada mereka, bahkan orang yang paling jahat pun di dunia ini
memiliki kesempatan untuk menyucikan dirinya dari dosa dan memperoleh atribut
untuk memasuki surga. Allah menggambarkan rahmat dan kasih sayang-Nya terhadap
semua umat manusia sebagai berikut:
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka
sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang’.” (Q.s. az-Zumar: 53).
Dengan merasakan kasih sayang dan rahmat Allah kepada mereka dan mengharapkan
ampunan-Nya setiap saat mereka kembali kepada-Nya mendatangkan rasa cinta dan kegembiraan
yang mendalam di dalam hati orang-orang beriman.
¨ Menyampaikan Nilai-nilai
Luhur al-Qur’an
Allah memerintahkan dibentuknya suatu jamaah di tengah-tengah umat manusia
yang menyeru kepada kebaikan:
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan,
menyuruh kepada yang ma‘ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah
orang-orang yang beruntung.” (Q.s. Ali Imran: 104).
Sesuai dengan seruan yang tercantum di dalam ayat ini orang-orang beriman
memiliki keikhlasan, berupaya untuk menyampaikan kebaikan nilai-nilai akhlak
yang terdapat di dalam al-Qur’an, menunjukkan kerusakan akhlak yang terdapat
di tengah-tengah masyarakat jahiliah, dan dengan kehendak Allah, membimbing
manusia ke jalan yang benar. Karena mereka sendiri sudah merasakan kedamaian
dan kenyamanan dengan cara hidup yang Islami, mereka pun mengharapkan agar
orang lain juga dapat mengalami hal yang sama. Selanjutnya, karena mengetahui
bahwa neraka benar-benar ada, mereka ingin melindungi semua orang dari siksaan
yang kekal dengan cara mendorong mereka untuk menjalani kehidupan yang
diridhai oleh Allah, karena amal-amal seseorang di dunia ini menentukan
kehidupan abadinya kelak di surga atau neraka. Bahkan keselamatan abadi bagi
satu orang saja punya arti yang besar bagi orang-orang beriman. Dengan alasan
inilah mereka punya komitmen untuk mengorbankan apa saja dalam rangka
menyelamatkan seseorang dari neraka dan membimbingnya menuju ampunan dan kasih
sayang Allah. Barangkali mereka akan mencurahkan waktu berbulan-bulan atau bertahun-tahun,
siang dan malam, guna membantu seseorang agar menerapkan nilai-nilai Islami
yang baik. Demikian pula, mereka pun dengan bersemangat mengeluarkan harta
kekayaannya demi hal ini. Semangat yang mereka rasakan memberikan kekuatan
yang besar baik secara fisik maupun ruhani. Hingga akhir hayatnya mereka tidak
pernah berhenti menyampaikan pesan-pesan Allah dengan cara yang paling baik dan
paling bijaksana.
Meskipun demikian, perlu dijelaskan bahwa sekalipun semua upaya mereka
tidak mendatangkan hasil atas turunnya hidayah kepada satu orang pun, mereka
tidak akan pernah merasa frustrasi karena tugas dari seorang mukmin hanyalah
sekadar menyampaikan pesan, sedangkan Allahlah yang sesungguhnya memberikan
hidayah kepada seseorang. Dari al-Qur’an kita tahu bahwa banyak penyembah
berhala di Mekkah yang tidak memeluk Islam, sekalipun Nabi Muhammad saw.
telah melakukan berbagai upaya dengan tulus dan sungguh-sungguh. Akan tetapi
usaha-usaha yang telah beliau saw. kerjakan tadi tetap mendapatkan ganjaran,
dan Allah mewahyukan kepada beliau saw.:
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu
kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan
Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Q.s. al-Qashash:
56).
Di dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa semua nabi telah menunjukkan komitmen
yang sama dalam menyampaikan risalah dari Tuhan mereka. Kesukaran-kesukaran
yang mereka hadapi tidak pernah mematahkan semangat mereka. Bahkan sebaliknya,
mereka senantiasa melakukan berbagai upaya untuk menunjukkan jalan yang benar
kepada umat mereka. Upaya-upaya penuh semangat yang telah dilakukan oleh Nabi
Nuh a.s. telah digambarkan sebagai berikut:
“Nuh berkata: ‘Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah berdakwah kepada kaumku
malam dan siang, namun dakwah itu hanya menambah mereka lari (dari kebenaran).
Dan sesungguhnya setiap kali aku berdakwah kepada mereka (untuk beriman)
agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam
telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari)
dan sangat menyombongkan diri. Kemudian sesungguhnya aku telah berdakwah
kepada mereka (untuk beriman) dengan cara terang-terangan, kemudian
sesungguhnya aku (berdakwah kepada) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan
diam-diam, maka aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu,
sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun’.” (Q.s. Nuh: 5-10).
Sebagaimana diungkapkan dalam ayat-ayat tadi, Nabi Nuh a.s. telah
menyampaikan risalah Tuhannya dengan semangat yang tinggi untuk mendamaikan
hati umatnya. Meskipun mereka selalu menolak namun beliau tidak pernah patah
semangat dalam menyampaikan atribut-atribut Allah. Kendati demikian, umatnya
yang berkepala batu selalu saja berpaling setiap kali mereka mendengarkan
kebenaran. Karena semangat dan rasa suka cita yang dirasakannya dalam menjalankan
perintah Allah untuk menyampaikan pesan-Nya, Nabi Nuh a.s. tidak mencela
sikap mereka namun beliau terus saja melanjutkan tugasnya dengan keteguhan yang
tiada henti. Meskipun umatnya menunjukkan keangkuhan, beliau berupaya mencari
cara-cara lain yang memungkinkan guna melunakkan hati mereka. Niat beliau
adalah untuk membebaskan mereka dari kerusakan masyarakat jahiliah dengan cara
mengingatkan kepada mereka mengenai kebesaran Allah, baik secara terbuka
maupun tertutup.
Perlu diingat bahwa upaya-upaya yang telah dilakukan oleh Nabi Nuh a.s. dan
yang lainnya dalam menyampaikan risalah ini, dengan semangat yang tinggi dan
keikhlasan, tidak akan dibiarkan begitu saja tanpa ganjaran. Insya Allah,
setiap kata yang disampaikan dan setiap detik yang dicurahkan di jalan-Nya
akan mendapatkan ganjaran yang berlipat ganda.
“Mereka itu adalah orang-orang yang bertobat, yang beribadah, yang memuji
(Allah), yang melawat, yang rukuk yang sujud, yang menyuruh berbuat ma’ruf dan
mencegah berbuat mungkar dan yang memelihara hukum-hukum Allah. Dan gembirakanlah
orang-orang mukmin itu.” (Q.s. at-Taubah: 112).
¨ Berpikir tentang Surga
Salah satu hal yang paling menimbulkan perasaan gembira bagi orang-orang
beriman adalah surga dan karunia-karunia yang akan mereka peroleh di sana.
Surga adalah tempat yang selama ini belum pernah ada dalam kehidupan dunia
ini; tak ada satu pun cacat dan celanya kehidupan di sana. Surga diciptakan
bukan sebagai ujian, sebagaimana kehidupan di dunia ini, namun adalah tempat
untuk memberikan ganjaran. Lagi pula, Allah memang sengaja menciptakan dunia
ini sebagai tempat yang tidak sempurna sehingga umat manusia merindukan surga
dan berjuang keras untuk mencapainya. Seseorang yang berjuang untuk mencapai
kesempurnaan, seumur hidupnya menginginkan surga dengan semangat yang lebih
besar lagi.
Di akhirat nanti orang-orang beriman akan bergembira karena telah
diselamatkan dari siksa neraka, yang selama hidupnya mereka telah berjuang
untuk menghindarinya. Pada sisi lain, mereka yang memerangi agama Allah, dan
orang-orang yang mengikuti al-Qur’an, serta mereka yang menentang orang-orang
beriman dan berupaya menindas mereka akan mendapatkan ganjaran yang sepadan
sebagai bukti keadilan Allah. Bagaimana ganjaran yang akan diterima oleh
orang-orang semacam ini dan kegembiraan yang dirasakan oleh orang-orang beriman
tatkala mereka menyaksikannya, dinyatakan di dalam al-Qur’an:
“Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang menertawakan
orang-orang beriman. Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka,
mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. Dan apabila orang-orang berdosa itu
kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. Dan apabila mereka
melihat orang-orang mukmin, mereka mengatakan: “Sesungguhnya mereka itu
benar-benar orang-orang yang sesat, padahal orang-orang yang berdosa itu tidak
dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mukmin. Maka pada hari ini, orang-orang beriman menertawakan
orang-orang kafir, mereka (duduk) di atas dipan-dipan sambil memandang.
Sesungguhnya orang-orang kafir telah diberi ganjaran terhadap apa yang dahulu
mereka kerjakan.” (Q.s. al-Muthaffifin: 29-36).
Fakta bahwa kelak orang-orang yang tidak beriman akan mendapatkan ganjaran
yang sepantasnya dari Allah, menyembuhkan luka di hati orang-orang mukmin.
Sungguh, hanya dengan memikirkan janji Allah saja sudah dapat membangkitkan
rasa suka cita di hati orang-orang beriman.
Selain itu, mengingat salam dan ucapan selamat datang dari para malaikat di
surga dan betapa kedudukan orang-orang beriman akan ditinggikan di sana adalah
sumber kebahagiaan utama. Mereka akan bertemu dengan malaikat-malaikat
Allah yang akan mengantar mereka ke surga, tempat tinggal mereka yang abadi.
Sementara mereka yang tidak mau mengabdi kepada Allah dalam hidupnya di dunia
ini, akan berada dalam ketakutan dan kesakitan ketika disergap oleh malaikat
azab, sementara orang-orang beriman diiringi oleh malaikat-malaikat rahmat
berada dalam kedamaian dan keamanan. Harapan ini membuat orang-orang beriman
merasakan kegembiraan yang luar biasa. Bagaimana mereka akan dipertemukan di
dalam surga nanti digambarkan di dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“(yaitu) surga ‘Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan
orang-orang saleh dari bapak-bapaknya, istri-istrinya dan anak cucunya, sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil
mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum’. Maka alangkah baiknya tempat
kesudahan itu.” (Q.s. ar-Ra‘d: 23-4).
“(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat
dengan mengatakan (kepada mereka): ‘Salamun ‘alaikum, masuklah kamu ke dalam
surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan.” (Q.s. an-Nahl: 32).
Alasan lain mengapa pemikiran tentang surga ini membangkitkan kegembiraan
di hati orang-orang beriman tidak ragu lagi adalah karunia yang dijanjikan
kepada mereka yang selama ini belum dapat mereka bayangkan seperti apa
wujudnya. Namun yang lebih membahagiakan lagi daripada itu adalah manakala
mereka mendapatkan keridhaan Allah, suatu tujuan yang selama ini sangat mereka
inginkan dan perjuangkan seumur hidup mereka:
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara
orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah
dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
besar.” (Q.s. at-Taubah: 100).
Dalam ayat di atas Allah memberikan kabar gembira bahwa Dia akan meridhai
orang-orang yang dimasukkan-Nya ke dalam surga. Demikianlah, ditekankan di
dalam al-Qur’an bahwa karunia terbesar di dalam surga adalah keridhaan Allah:
“Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan,
(akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di
dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan
Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.” (Q.s. at-Taubah: 72).
Selain itu, Allah memberikan kabar yang lebih baik lagi kepada orang-orang
beriman mengenai karunia surga:
“Salam, sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang.” (Q.s.
Yasin: 85).
Dan ini adalah ganjaran terbaik bagi perjuangan tulus yang telah dilakukan
oleh orang-orang beriman sepanjang hidup mereka.
Orang-orang beriman juga merasakan kegembiraan manakala memikirkan betapa
indahnya surga, dimana jauh dari apa yang dapat dibayangkan oleh manusia,
sekalipun sudah banyak diberikan gambaran yang rinci di dalam al-Qur’an. Allah
telah berfirman bahwa di sana nanti terdapat banyak keindahan dan karunia yang
selama ini pernah diinginkan oleh jiwa manusia atau yang selama ini dapat
dibayangkannya. Cakrawala pandang manusia di dunia ini terlalu terbatas untuk
dapat memberikan gambaran yang sepenuhnya mengenai berbagai macam karunia
abadi tadi. Sungguh, surga dipenuhi dengan hadiah-hadiah mengejutkan yang tiada
henti-hentinya bagi orang-orang beriman. Memikirkan hadiah-hadiah mengejutkan
ini saja dan mengetahui bahwa mereka dengan izin Allah akan hidup kekal selamanya
membuat mereka merasa sangat berbahagia.
Bahkan sejak sekarang pun orang-orang beriman telah mengetahui
karunia-karunia tertentu di surga, karena telah mendapatkan gambaran-gambaran
dari al-Qur’an. Misalnya, orang-orang beriman mengetahui bahwa kelak mereka
akan bersama-sama dengan kawan-kawan dan orang-orang yang mereka cintai. Mereka
akan berkawan dengan para nabi, syuhada, siddiqin, dan orang-orang saleh
terdahulu dan akan mendapatkan penghormatan menjadi sahabat-sahabat
orang-orang suci yang diridhai oleh Allah. Mereka akan menemui cinta dan persahabatan
sejati di sana, dan tidak akan pernah merasa bosan.
Setan tak akan dapat mendekati para penduduk surga; ia akan dilemparkan
ke dalam siksaan yang abadi di dalam api neraka, maka di surga nanti setiap
orang akan memiliki sifat-sifat yang baik, tulus, dan jujur di hadapan Tuhan
mereka. Di sana tidak akan dijumpai akhlak-akhlak buruk yang ada pada masyarakat
jahiliah (seperti kebencian, kemarahan atau dengki); semua sifat-sifat jelek
ini akan hilang untuk selama-lamanya.
Di surga nanti tidak akan ada kesulitan-kesulitan seperti yang terdapat di
dunia ini. Mereka tidak perlu cemas atas rencana-rencana jahat dari
orang-orang munafik. Orang-orang beriman akan diangkat derajatnya
selama-lamanya, hidup dalam kedamaian dan kebahagiaan di tengah-tengah
kenikmatan apa pun yang diinginkan oleh nafsu mereka. Semua orang akan
diciptakan dengan bentuk yang sempurna dan dibebaskan dari segala macam cacat.
Bentuk tubuh mereka elok, memiliki perasaan saling menyayangi dan berusia
setara. Hukum-hukum alam yang berlaku sebagaimana di dunia ini tidak lagi
berjalan; suatu kehidupan baru dengan kenikmatan-kenikmatan baru telah
tersedia untuk mereka yang imannya terjamin. Selain itu, surga adalah sebuah
tempat yang berisi kemegahan-kemegahan fisik seperti mahligai-mahligai,
pohon-pohon yang senantiasa berbuah dan mudah dipetik, sungai madu, dan
keindahan-keindahan yang menarik hati lainnya.
Lebih dari itu, “keabadian”, sebuah konsep yang dalam pikiran manusia sulit
untuk dibayangkan, berlaku di surga. Kehidupan di surga tidak hanya terbatas
selama ratusan, ribuan, miliaran, atau triliunan tahun ... namun kehidupan di
sana adalah kehidupan yang kekal abadi. Manusia tidak akan merasa letih dan
jenuh tinggal di sana, dan ia akan merasakan kesenangan yang besar selama-lamanya
dalam setiap saat yang dilewatinya.
Memikirkan tentang kenikmatan-kenikmatan ini, sementara dirinya masih
berada di dunia, dan harapan untuk mencapai surga merupakan sumber semangat
dan hasrat utama orang-orang beriman. Dengan rangsangan untuk memperoleh
kenikmatan-kenikmatan tersebut, mereka menjadi semakin bergairah dan melakukan
upaya-upaya yang lebih banyak untuk menjadi hamba-hamba Allah yang layak
menjadi penghuni surga. Sebagaimana digambarkan di dalam al-Qur’an, mereka
berlomba-lomba satu sama lain dalam melakukan amal kebajikan dan berjuang untuk
menjadi pemenang terbaik untuk mendapatkan “surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. Ali Imran:
133).