Sabtu, 07 Juni 2014

PERBEDAAN DALAM ISLAM ITU RAHMAT

Maulid Nabi, Sejarah Syiar Islam

Perbedaan itu rahmat. Pandangan sesama umat Islam tentang ‘boleh’ atau ‘tidak boleh’ memperingati Maulid Nabi justru mengasah orang untuk mempelajari ilmu-ilmu dalam Islam, termasuk fiqih dan sejarah syiarnya.

Kata maulid atau milad adalah dalam bahasa Arab berarti hari lahir. Maulid Nabi Muhammad SAW atau seringkali disebut Maulid Nabi saja adalah peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam kalender Hijiriah. Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Mereka yang berpendapat bahwa peringatan maulid itu ‘bid’ah’ karena tidak pernah dikerjakan oleh Nabi Muhammad SAW, bisa memaknai secara lebih jernih ibadah-ibadah lain seperti umrah pada bulan Ramadhan yang selama hidup Rasulullah tidak pernah menjalankan. Kemudian mengeluarkan zakat fitrah dengan beras, Rasulullah juga tidak pernah mengeluarkan zakat fitrah dengan beras.

Kalau melihat pengertiannya dalam bidang ibadah, yang disebut ‘bid’ah’ adalah ibadah yang tidak ada dalilnya -- dalil syar’i dalam agama. Sedangkan yang dimaksud dalil syar’i adalah Al Qur’an, Al Hadist, Ijma’, Qiyas, dan lain-lain. Lalu, apakah peringatan maulid Nabi SAW itu ada dalilnya dalam agama? Tidak. Tapi untuk melihat ‘status hukum’ suatu perbuatan harus dilihat ‘perbuatan’ itu, bukan nama atau ‘judul’ perbuatan itu

Seperti kata Syaikh Dr. Ahmad al-Syurbasyi dalam kitabnya Yasalunaka fi al-Din wa al-Hayah, untuk memberi ‘status hukum’ peringatan maulid, harus dilihat ‘perbuatan’ yang dilakukan dalam maulid itu. Apabila peringatan maulid diisi dengan maksiat dan kemungkaran, hukumnya jelas haram. Namun, apabila diisi dengan membaca Al Qur’an, shalawat, penerangan perjuangan Rasululah SAW, dan lain sebagainya, semua itu ada dalil-dalil yang menganjurkannya.

Peringatan Maulid Nabi, diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi, seorang Gubernur Irbil, di Irak pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193). Ada pula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri.

Sebagaimana diketahui, Sultan Salahuddin adalah salah satu pemimpin umat Islam dalam  kecamuk panjang panjang Perang Salib yang belangsung selama 70 tahun lebih. Perang Salib dipicu ‘fatwa’ Paus Urbanus II ……

Peperangan yang berlangsung pasang surut ini benar-benar menguras energi, dan antara kemenangan dengan kekalahan pun terjadi silih berganti. Sebelum Sultan Salahuddin memimpin, ayah dan pamannya menjadi panglima perang umat Islam Dinasti Bani Ayyub. Kemudian Sultan Salahuddin memimpin pada 1174-1193 atau 570-590 H.  Saat itu Salahuddin menjabat setingkat gubernur dengan pusat kesultanannya berada di kota Qahirah (Kairo), Mesir, dan daerah kekuasaannya membentang dari Mesir sampai Suriah dan Semenanjung Arabia.

Pada periode tertentu, umat Islam sempat kehilangan semangat perjuangan, Maka, dengan menggunakan momentum hari kelahiran Rasulullah SAW, Sultan Salahuddin membangkitkan semangat umat Islam dengan mengingatkan kembali kepada perjuangan Rasulullah SAW, untuk apa Nabi Akhir Zaman itu diturunkan di muka bumi.

Perintah merayakan Maulid Nabi disampaikan pertama kali pada musim haji 579 H atau 1183. Sultan mengimbau agar seluruh jamaah haji seluruh dunia jika kembali ke kampung halamannya segera mengenalkan perayaan Maulid kepada masyarakat Islam dimana saja berada. Perintah itu atas persetujuan Khalifah Bani Abbas di Baghdad.

Ide Sultan Salahuddin ini awalnya ditentang oleh para ulama. Sebab sejak zaman Nabi SAW peringatan seperti itu tidak pernah ada. Lagi pula hari raya resmi menurut ajaran agama cuma ada dua, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Lalu Sultan Salahuddin menegaskan bahwa perayaan Maulid Nabi hanyalah kegiatan yang menyemarakkan syiar agama, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai bid`ah yang terlarang.

Salah satu kegiatan yang diadakan oleh Sultan Salahuddin pada peringatan Maulid Nabi yang pertama kali tahun 1184 (580 H) adalah menyelenggarakan sayembara penulisan riwayat Nabi,  beserta puji-pujian bagi Nabi dengan bahasa yang seindah mungkin. Seluruh ulama dan sastrawan diundang untuk mengikuti lomba tersebut. Pemenang yang menjadi juara pertama adalah Syaikh Ja`far Al-Barzanji dengan karyanya Kitab 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata). Karya itu digandakan dan disebarkan ke seluruh penjuru dunia, umumnya dibaca pada saat peringatan Maulid Nabi dengan sebutan ‘Barzanji’.


Salah satu buah dari menggeloranya semangat perjuangan umat Islam yang dipicu oleh peringatan Maulid Nabi, Sultan Salahuddin berhasil menghimpun kekuatan dan merebut Yerusalem dari bangsa  Eropa pada tahun 1187 M (583 H).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar